Alam Pasundan Sebagai Penghidupan (2)

Lanjutan dari Alam Pasundan sebagai penghidupan

Untuk bersantap, urang Sunda bahkan tak perlu keluar halaman rumah dan sawahnya. Tanaman kebutuhan dapur seperti cengek atau cabe rawit, cabe keriting, tomat, leunca, salam, serai, surawung, kunyit, dan lain-lain selalu ada di halaman rumah. Di simpang-simpang pematang, kacang panjang, roay atau jaat tumbuh. Lagi-lagi, petik-petik-petik, lalu mengulek sambal tomat-terasi pedas, makan!

Hampir di setiap rumah warga di pedesaan Priangan Timur terdapat kolam ikan peliharaan atau balong. Aliran sungai penuh dengan karamba (kotak kayu atau bambu yang direndam di air sungai, dijadikan kandang memelihara ikan). Sungai menjadi tempat pemeliharaan ikan bagi keluarga yang tak cukup punya tanah untuk membuat balong.

Sungai memang selalu menjadi bagian dari sumber pangan masyarakat Sunda. Hingga kini begitu banyak kosakata Sunda untuk beragam ikan dan fauna sungai yang susah dicari padanannya dalam bahasa Indonesia lantaran fauna itu nyaris tak mungkin didapati di daerah lain. Bebeong, deleg, bogo, betok, jeler, beunteur, sidat, hurang (udang), kijing atau kerang.

Alam kuncinya

Cara memasak urang Sunda yang praktis pun menunjukkan betapa dekatnya mereka dengan alam. Kelezatan nasi liwet lahir dari kebutuhan praktis peladang berpindah untuk memasak serba cepat, satu kali masak dapat nasi sekaligus lauk.

Aneka pepes kering lezat dihasilkan dengan sangat praktis, disusupkan ke sela abu panas hawu (tungku perapian). Cara memasak itu lazimnya dipakai untuk memasak aneka umbi- umbian, atau dibubuy. Abu panas sisa pembakaran kayu, ranting, ataupun sabut dan batok kelapa pelan mengeringkan pepes hingga renyah dan gurih oleh bumbu. Pepes yang dimasak dengan dikukus pun tak kalah lezatnya, kaya oleh resapan rasa bumbu-bumbu hasil pengukusan dari dandang yang ditaruh di perapian hawu yang panasnya merata lama.

Karena dekat dengan alam dan hidup dari apa-apa yang tersedia di alam, masyarakat Jawa Barat sangat memelihara dan menjaga kelestarian alam sekitar dari kemungkinan kerusakan. Budayawan Sunda, Acep Zamzam Noor, mencontohkan adanya tiga jenis hutan yang bisa dimanfaatkan setiap orang.

”Ketika hutan ditetapkan sebagai ’hutan larangan’, pantang bagi masyarakat menebang pohon, kecuali mengambil ranting-ranting yang jatuh untuk bahan bakar,” katanya.

Alam selama ini memang menjadi ”lumbung pangan” urang Sunda. ”Orang-orang Sunda selalu makmur. Bahkan, pembukaan perkebunan kopi dan teh oleh Belanda pun tak membuat orang Sunda kekurangan pangan. Kelaparan hanya terjadi saat musim kemarau panjang tahun 1924, itu pun hanya terjadi di Rancaekek di Kabupaten Bandung,” kata sejarawan Universitas Padjadjaran, Nina Herlina Lubis.

Sayang, alam itu kini mulai rusak. Anep Paoji, penulis yang tinggal di Kota Tasikmalaya, mengenang tradisi marak yang tak lagi dilakoni anak-anak di pelosok Tatar Sunda. ”Waktu saya masih di sekolah dasar tahun delapan puluhan, kebiasaan marak atau menangkap ikan di sungai dengan membendung aliran sungai masih ada, sekarang sudah punah karena sungai sudah menyempit dan tercemari limbah,” tutur Anep Paoji.

Tak pernah ada kata terlambat untuk mulai berbaik-baik kepada alam. Apalagi urang Sunda memiliki bekal terbaik untuk itu, segenap kearifan dan pengetahuannya tentang alam.

( Sumber : Pepih Nugraha / Aryo Wisanggeni –  Harian KOMPAS )

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.