Baju Bodo (2)

(Lanjutan dari Baju Bodo)

Pada awal munculnya, BAJU BODO tidaklah lebih dari baju tipis dan longgar sebagaimana karakter kain Muslin. Tampilan BAJU BODO masih transparan sehingga masih menampakkan payudara, pusar dan lekuk tubuh pemakainya. Hal ini diperkuat oleh James Brooke dalam bukunya Narrative of Events, sebagaimana dikutip Christian Pelras dalam Manusia Bugis, mengatakan ;

Baju Bodo Makasar 1930“Perempuan [Bugis] mengenakan pakaian sederhana… Sehelai sarung [menutupi pinggang] hingga kaki dan baju tipis longgar dari kain muslin (kasa), memperlihatkan payudara dan leluk-lekuk dada.”

PADA AWAL ABAD KE-19, DON LOPEZ COMTE DE PARIS, SEORANG PEMBANTU SETIA GUBERNUR JENDERAL DEANDELS MEMPERKENALKAN PENUTUP DADA YANG DALAM BAHASA INDONESIA DISEBUT “KUTANG” PADA PEREMPUAN JAWA, NAMUN SAYANG KUTANG INI BELUM POPULER DI TANAH BUGIS-MAKASSAR. SEHINGGA TIDAK JANGGAL JIKA PADA TAHUN 1930-AN, MASIH BANYAK DITEMUI PEREMPUAN BUGIS-MAKASSAR MEMAKAI BAJU BODO/WAJU TAKKU TANPA MEMAKAI PENUTUP DADA.
KONTROVERSIAL BAJU BODO

Ajaran agama Islam mulai menyebar dan dipelajari masyarakat di Sulawesi sejak Abad ke-V, namun secara resmi baru diterima sebagai agama kerajaan pada abad XVII. Ketatnya larangan kegiatan dan pesta adat menurut ajaran islam membuat baju bodo menjadi asing dikalangan masyarakat Sulawesi Selatan.
Kontroversi ini kemudian disikapi bijak oleh kerajaan Gowa, hingga muncullah modifikasi BAJU BODO yang dikenal Baju Labbu(serupa dengan BAJU BODO, tetapi lebih tebal, gombrang, panjang hingga lutut). Perlahan, BAJU BODO yang semula tipis berubah menjadi lebih tebal dan terkesan kaku. Jika pada awalnya memakai kain muslin (kain sejenis kasa), berikutnya BAJU BODO dibuat dengan bahan benang sutera

Bagi golongan agamawan, adanya baju labbu ini adalah solusi terbaik, tidak melanggar hukum Islam dan juga tidak menghilangkan nilai adat. Maka, saat bermunculan BAJU BODO dengan berbagai model dan variasi, seperti yang terjadi saat ini, itulah bentuk konstruksi budaya manusia Bugis-Makassar saat ini. Kombinasi dan variasi BAJU BODO yang ada saat ini, terbukti mampu diterima oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. BAJU BODO tidak lagi sekedar pakaian adat, melainkan dapat dipakai diacara resmi, bahkan busana kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published.