Hare Gene Politik

IphannIni pertanyaan basi sebenarnya, kenapa gue dan temen temen gue agak malas bicara politik. Ini kalau ditanya sama orang orang, “bakal milih partai atau Presiden siapa nanti 2014 ?”. Kalau data yang gue baca di googling ada 20 juta pemilih baru, tapi ada yang bilang 30 juta. Sebenarnya tidak masalah jumlah angkanya, karena memang itu gede banget buat pemilih pemula.

Problemnya kenapa gue dan sebagian besar pemilih baru itu agak ‘ilfil’ kalau ditanya bakal ikut mencoblos?

Jangan salahkan kita kita. Coba dipahami jika setiap hari berita yang kita lihat di internet, TV , koran semuanya tentang politikus yang kadang gue juga bingung. Dia itu politikus atau pelawak? Sama sekali tidak menunjukan aura seorang tokoh atau orang pintar. Belum lagi bagaimana politikus lain yang ditangkap karena kasus korupsi. Mau dibawa kemana negara ini? Gila aja para wakil rakyatpun tidak bisa menjadi contoh yang benar.

Kalau ditanya, gue akan lebih sreg misalnya melihat gaya dan cara berpikir Agnes Monica, atau Raditya Dika malah. Ceplas ceplos, cuek tapi jujur dan punya prestasi yang didapat dari kerja keras. Bukan karena adu setor duit buat pilkada atau pileg. Bukan karena koneksi partai atau Istana.

Orang orang seperti Alanda Kariza, Joko Anwar atau Panji mungkin bisa membuat gue datang ke tempat pencoblosan kalau mereka seandainya jadi calon anggota DPR.

Jadi ini salah siapa? Bukan salah gue, juga bukan salah negara. Yang salah adalah sistem. Kenapa gue bilang sistem? Karena gue tidak pernah tahu bagaimana rekruitmen di Partai misalnya, atau bagaimana partai melakukan proses pemilihan kader kadernya di DPR. Kenapa secara tertutup memilih dia? Tiba tiba muncul calon dari mana? Apakah ada proses seleksi atau semacam adu kepintaran, integritas dan fit and proper test.

Bukannya anggota DPR melakukan fit and propes test terhadap setiap pejabat publik yang akan dilantik? Kenapa terhadap calon anggota DPR justru tidak ada fit dan proper test secara terbuka?

Gue sebenarnya tidak apatis amat dengan negeri ini. Bangsa gue sendiri. Gue bahkan percaya kalau ada orang orang baik yang akan mengurus Indonesia. Beberapa ekperimen politik mulai dari otonomi daerah, dan panggung pilkada sudah mesti ditata ulang. Kalau perlu diubah peraturannya. Alih alih ingin dibilang demokrasi, malah jadinya ambur adul.
Gue juga percaya Partai partai kolot yang tidak memahami aspirasi anak muda, bakal kelelep. Tenggelam. Kalau hal hal yang gue bilang diatas tidak juga diperbaiki. Sampai kapanpun masih susah menarik gue dan teman teman gue datang ke bilik suara.

Pertanyaannya beranikah melakukan perubahan?

Penulis : Ivan Loviano ( Blogger ) @iphann , tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published.