Kisah remaja Amerika yang terperangkap menjadi simpanan saudara Sultan Brunei

“Pada usia delapan belas, Jillian Lauren yang putus sekolah teater dari NYU mendatangi sebuah audisi. Casting director mengatakan bahwa seorang pengusaha kaya di Singapura akan membayar gadis-gadis cantik Amerika $ 20.000 jika mereka tinggal selama dua minggu untuk klub malam di Singapura. Tak berapa lama Jillian terbang ke Kalimantan. Bukan ke Singapura, di mana ia akan menghabiskan waktu selama delapan belas bulan menjadi harem Pangeran Jefri Bolkiah, adik bungsu dari Sultan Brunei “

Aku adalah hadiah dari seorang adik yang ‘ memberi ‘ tubuku sebagai hadiah kepada sultan, kakakny. Hanya dalam satu malam, aku sudah menjadi bagian dari pelanggaran di bawah hukum pidana yang baru diimplementasikan di Brunei .

Sekarang sultan menjadi berita utama yang menerapkan hukum Syariah di Brunei , termasuk hukum pidana baru yang mencakup rajam sampai mati untuk perzinahan, memotong anggota badan untuk pencurian, cambuk untuk pelanggaran seperti aborsi , konsumsi alkohol , dan homoseksualitas. Ada juga hukuman mati untuk pemerkosaan dan sodomi .

Biarkan kuceritakan pengalamanku.

Aku berumur 18 ketika mendapati diriku bukan bekerja di sebuah klub malam di Singapura, sebagaimana tawaran yang diberikan. Sebaliknya, aku menjadi tamu pribadi playboy terkenal Pangeran Jefri Bolkiah , adik bungsu dari Sultan Brunei..

Ketika aku tiba di Brunei,. Bukan rahasia kalau pangeran mengadakan pesta mewah setiap malam, di sebuah istana dengan lukisan Picasso di kamar mandi dan karpet tenun melalui dengan benang emas asli .
Dalam pesta itu, selalu ada minuman keras (yang tidak legal di depan umum ), gadis gadis menari, karaoke dan yang paling utama puluhan wanita dari seluruh penjuru dunia. Wanita cantik dan menggoda.

Pangeran Jeffri memang gagah dan pintar merayu. Aku masih teramat muda saat itu. Aku bahkan membiarkan menghabiskan waktu sebagai pacarnya. Itu adalah sebuah petualangan baik glamor sekaligus rasa kesepian dan demoralisasi, dan penuh penghinaan. Ini termasuk yang diriku yang diberikan kepada saudara sang pangeran sebagai hadiah. Meskipun aku tidak berarti seorang tahanan , jelas aku tidak bebas untuk datang dan pergi setiap saat.
Ketika aku selesai dan meninggalkan Brunei. Tiba tiba aku merasa 10 tahun lebih tua

Kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, menganggap hukuman rajam yang sekarang dipraktekan di Brunei, sebagai salah satu bentuk yang paling brutal dari kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan.

Namun itu adalah hak istimewa dari sang pangeran dan sultan untuk berbuat apapun yang merke mau termasuk petualangan nafsu birahinya.

Aku membayangkan mereka rakyat Brunei menghadapi erosi hak-hak mereka. Aku juga membayangkan orang yang saya kenal – Keluarga Sultan – bersembunyi di Istana mereka, mungkin dengan remaja Amerika lain di pangkuannya sambil membuat undang-undang yang mengatur moralitas di negerinya sendiri.

Jillian Lauren is the author of The New York Times bestseller Some Girls: My Life in a Harem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.