Nias, Mitos yang terkuak ( 1 )

Nias merupakan salah satu dari misteri besar Indonesia. Tipe khas budaya megalitik yang muncul di Nias tidak dikenal di daerah lain mana pun di Indonesia, arsitektur rumah raja-raja di kampung-kampung Nias Selatan agaknya unik. Kebiasaan dan tradisi masyarakat Nias tidak terkait dengan kebiasaan dan tradisi yang terdapat di pulau-pulau tetangga, yang mengindikasikan bahwa masyarakat Nias mungkin berasal dari tempat yang jauh itu ( Dr. Lea Brown ).
Pertanyaan sekarang adalah: dari mana ? Saat ini, tidak ada seorang pun yang bisa memberikan jawaban.

Pikiran dari Dr.Lea Brown sebagai peneliti bahasa asli Nias terus menggelitik imajinasi saya saat pesawat Merpati CN 235 mendarat di Bandara Binaka, Gunung Sitoli. Salam ucapan Ya’ahowuu, diteriakan lantang oleh Dale, supir saya yang menjemput di Bandara. Ia sangat antusias bercerita tentang Nias. Selepas SMA ia sempat merantau ke Padang, namun kembali bekerja menjadi supir milik sebuah travel perjalanan di Gunung Sitoli.
Banua Niha ( Nias ) memang memiliki tradisi panjang berabad abad silam. Batu batu megalitik adalah pintu masuk sekaligus simpul untuk memahami budaya Nias. Orang Nias mengukuhkan eksistensinya melalui batu karena dianggap sebagai simbol kekuatan dan keabadian.

Rumah tradisional Nias juga memiliki konstruksi yang kokoh, terutama penyusunan pondasi kayu bulat yang silang menyilang tanpa menggunakan paku. Konstruksi ini yang membuat tak satupun rumah tradisional Nias rubuh karena gempa dan tsunami tahun 2004.
Bentuk rumah tradisional Nias bagian utara berbeda dengan selatan, terutama bentuk atapnya. Di Nias bagian utara bentuk atapnya mengerucut ke atas menyerupai caping. Sementara di bagian selatan memiliki bubungan yang memanjang. Kedua sub etnik ini juga memiliki berbagai perbedaan dalam hal karakter. Masyarakat Nias bagian utara lebih terdidik dan memiliki kesadaran pariwisata. Mungkin karena akses ke dunia luar, pelabuhan, bandara serta infrastruktur yang lebih baik.
Sedang Nias bagian selatan terutama masyarakat di desa desa tradisionalnya masih tertutup.

Tujuan utama saya memang ke sebuah desa di wilayah Teluk Dalam, Nias Selatan. Desa bernama Bawomataluo dari Gunung Sitoli, ditempuh sekitar 3 jam. Memang ironis, namanya dikenal di manca negara sementara akses jalanan masih compang camping. Rusak dimana mana. Nias dikenal tidak hanya tradisi ( ombo batu ) lompat batunya , tetapi gulungan ombaknya yang panjang di Nias Selatan menjadikan salah satu tempat surfing terbaik di dunia. Taraf kehidupan masyarakat di sana umumnya masih miskin.
Lebih separuh desa / kelurahan di Nias belum terjangkau oleh kendaran roda empat, listrik apalagi jaringan telpon. Baru awal 2006 pusat pusat kecamatan Nias terjangkau sinyal seluler. Keterbatasan sarana transportasi dan komunikasi tidak hanya antara kabupaten dan tetangga sekitarnya, tetapi juga antar kecamatan dan tetangganya. Jalan yang menghubungkan Teluk Dalam dengan seluruh ibu kota kecamatan sebagian besar rusak parah, bahkan sulit dilalui kendaraan roda dua atau empat.

Bawomataluo terletak di punak bukit setinggi 270 meter dari permukaan laut, sudah menjadi sebuah situs world heritage. Bawamataluo merupakan perkampungan tradisional yang sangat megah. Rumah rumah dengan fondasi kayu berjajar saling berhadapan dan membujur dari selatan ke utara Oma Hada, sebuah rumah paling besar – semacam istana, dianggap kepala adat menjadi titik pusat di tengah tengah, dari pertigaan jalan. Seperti tusuk sate.
Umumnya rumah adat Nias terdiri dari dua lantai. Lantai bawah sebagai gudang sampai tempat hewan, dan lantai atas sebagai ruangan keluarga termasuk tempat tidur.
Halaman yang luas di depan rumah rumah, beralaskan batu batu sebagai tempat untuk atraksi bagi wisatawan. Banyak batu megalitik berserakan yang diletakan berdiri atau tertidur.

Hal yang paling membedakan dengan tempat lain adalah atraksi lompat batu di Bawomataluo, yang sejak jaman dulu dipakai sebagai ritual anak laki laki yang beranjak dewasa.

( Berlanjut ke Nias, Mitos yang terkuak ( 2 ) )

Tagged with
  1. […] dari Nias, Mitos yang terkuak ( 1 ) ) Hikayat, 50 tahun, menjadi semacam penerjemah bagi kami. Sebagaimana ciri manusia Nias. Ia […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.