Perjalanan ke Biak, Papua

Matahari belum sepenuhnya menampakan diri, ketika pesawat Garuda yang membawa kami mendarat pukul 6 pagi di Bandara udara Frans Kasiepo, Biak, Papua. Rasa lelah setelah 7 jam terbang dari Jakarta terobati melihat hamparan biru laut dan pulau pulau indah yang terlihat terhampar dari udara. Dengan berjalan kaki kami tiba di hotel Irian yang hanya berjarak 100 meter dari gerbang Bandar udara, sementara barang barang bagasi dibawa oleh petugas dari Biak Diving yang menjemput kami. Hari ini kami bertujuh akan memulai petualangan selam di sekitar pulau Biak.

Hotel Irian, sebuah hotel bekas peninggalan jaman Belanda terlihat unik dengan arsitektur kayu ala era kolonial. Ruang Lobby, serta deretan kamar kamar di sayap kiri dan kanan, masih menggunakan konstruksi kayu yang tak berubah sejak tahun 50 an. Sementara kami menempati deretan kamar di area bawah di tepi pantai.

Kota ini memang unik, karena pernah menjadi kota perdagangan di garis depan Pulau Papua. Berbagai macam etnik ditemu disini. Bugis, Buton, Jawa, Manado, Makasar, Ambon, Madura dan tentu saja penduduk asli Papua.

Ketika Garuda Indonesia masih mempunyai penerbangan Jakarta – Los Angeles, mereka transit di Biak. Tak heran Biak ramai dan selalu sibuk. Bandara Frans Kasiepo meruupakan salah satu bandara di Indonesia yang dapat didarati pesawat besar sejenis Boeing 747. Kini semuanya mendadak sepi, sejak Garuda menghentikan penerbangan jarak jauhnya ke Amerika. Juga sebuah bekas hotel bintang 5 yang kini menjadi sarang belukar dan menyeramkan.

Sesekali turis Jepang datang untuk mengunjungi Memorial Park – taman kenangan prajurit Jepang masa PD II – yang terlihat sangat indah. Tentu saja dengan dana perawatan rutin dari Pemerintah Jepang.

Sisa sisa peninggalan bekas pendudukan tentara Jepang masih bisa dilihat seperti gua gua perlindungan dan beberapa onggokan mesin perang seperti meriam dan tank.

Salah satu yang menjadi sasaran penyelaman kami adalah wreck bekas Pesawat PBY Catalina yang tenggelam di kedalaman di lepas pantai timur pelabuhan Biak.

Setelah menempuh sekitar 15 menit dengan kapal jukung dari pantai, kami berhenti disebuah titik. Hujan deras tak menghalangi visibility yang sangat bagus saat itu. Kurang lebih 30 meter jarak pandang dalam air.

Kami harus bergegas cepat menuju kedalaman 30 meter tempat pesawat itu tergeletak utuh. Menakjubkan, sebuah melihat sebuah benda asing ditengah kesunyian dalamnya laut. Sendiri dan terasing.

PBY Catalina adalah pesawat terbang amphibi buatan Amerika yang diproduksi Consolidated Aircraft antara tahun 1930 sampai 1940. Diperlengkapi oleh bom, torpedo dan senapan mesin, pesawat ini menjadi salah satu pesawat multi-role yang paling sering digunakan selama perang dunia ke 2.

Tidak ada catatan jelas sebab pesawat ini tenggelam, namun kalau dilihat dari keutuhan seluruh body pesawat, hampir tidak mungkin jatuh karena tembakan musuh. Besar kemungkinan jatuh karena problem teknis kerusakan mesin.

Salah satu sebab pesawat ini masih relatif utuh karena letaknya yang dalam sehingga menyulitkan pedagang pedagang besi tua untuk memungutnya. Ini berbeda dengan wreck yang terletak lebih dangkal dekat pantai, umumnya tak bisa bertahan lama karena dijarah oleh manusia. Sungguh amat disayangkan karena wreck wreck bangkai kapal ini bisa menjadi terumbu karang artificial sebagai rumah ikan.

Beberapa permukaan pesawat sudah ditumbuhi oleh coral coral dan kelak kalau sudah memenuhi seluruh tubuh pesawat akan membuatnya tak terlihat sebagai pesawat utuh lagi.

Beberapa hari selanjutnya ekspedisi kami menuju ke utara, arah kepulauan Padaido. Mengagumkan bahwa visibility sangat jernih. Superb visibility. Terlebih disekitar Atol Mansoor Babu. Kami sampai kembali lagi ke tempat yang sama pada hari ketiga.
Terumbu karang di tempat ini agak berbeda dengan area lain disekitar Biak yang umumnya hancur karena pengeboman. Walau sudah berkurang, kadang kala masih ditemui metode penangkapan ikan menggunakan bom. Kerusakan terumbu karang ini menjadi problem yang sangat serius bagi ekosistem bawah laut di teluk Cendrawasih. Padahal ikan ikan dan mahluk lainnya membutuhkan terumbu karang sebagai rumah dan lingkungan hidupnya.

Disini kehidupan terumbu karang masih sangat sehat. Begitu banyak hamparan sea fans raksasa dalam susunan dinding – wall – di sekitar atoll. Selain itu banyaknya soft coral jenis leather membuat saya mencoba menggabungkan teknik pemotretan balance antara pencahayaan flash / strobe dengan cahaya matahari yang masuk dari permukaan air.
Didekat sini ada beberapa ceruk – gua –membuat penyelaman seperti memasuki lorong yang menyeramkan. Dinding dinding terjal dan cave seperti mengesankan petualangan menuju dunia antah berantah.

Dalam pemotretan kali ini, saya tidak mengandalkan kemampuan flash / strobe. Jadi saya memakai teknis available light. Ini justru menghasilkan gambar gambar mencekam. Sang model – buddy dive saya – menjadi sosok yang terasing sendiri dalam labirin labirin ceruk gua gua bawah laut.

Kami melakukan surface interfal , sambil makan siang di Pulau owi . Seperti biasa rekan saya, Chris – wartawan Majalah Intisari – selalu menyempatkan membagi bagikan buku bacaan untuk anak anak di pulau yang kami kunjungi.

Setelah makan siang, kami menuju ke Mark Point sebuah titik dimana arus mulai kencang. Sebagaimana prinsip prinsip yang kami yakini. No Current No Life. Jika ada arus berarti akan banyak ditemui ikan. Ini tidak salah. Dikejauhan tampak school of Baracuda, kerumunan ikan black fin baracuda = sphyraena genie – dengan elegannya meliuk liuk di tengah arus yang deras.

Hari hari menyelam di Pulau Biak dan sekitarnya menawarkan sesuatu tentang keindahan alam negeri ini. Sesuatu yang terlupakan oleh manusia manusia Jakarta. Ikan ikan nemo – tomatoes clown fish – yang lincah menari nari menjadi saksi ekosistem bawah laut yang patut dijaga dan dilestarikan. Seolah berkata ‘ tolong jangan hancurkan rumah kami ‘.

Konon diperbatasan dengan Laut Pacific sana, di utara Biak, terletak kepulauan Mapia yang pemandangan bawah lautnya lebih dasyat. Sayang sangat tidak dimungkin karena harus menempuh perjalanan dua hari penuh dengan kapal. Waktu kami tidak banyak karena harus kembali ke Jakarta esok lusa. \Mungkin suatu hari kami kesana. Laut biru. Visibility 40 meter, Pelagics, terumbu karang indah. Siapa bisa menolak ?

Mungkin kalau dulu MacArthur suka menyelam, dia akan lebih lama tinggal di Biak.

Tips berpergian ke Biak

1. Biak dapat dikunjungi dengan pesawat Garuda, Express Air, Effata dengan lama perjalanan kurang lebih 7 jam, dengan stop over di Makasar.
2. Ada beberapa jenis hotel dan penginapan di Biak mulai dari kelas melati sampai bintang 2.
3. Dive operator yang berbasis land based hanya ada satu. Umumnya mereka memberikan harga yang kompetitif terutama terhadap tamu / wisatawan local. Negoisasi sebaiknya dilakukan sebelum melakukan kesepakatan. Harga sudah termasuk penginapan hotel termasuk transportasi, makan pagi siang dan malam.
4. Tetap dianjurkan meminum pil anti malaria, dua minggu sebelum kunjungan, setibanya disana dan setelah kembali dari Biak. Bagaimanapun daerah Papua masih rentan dengan epidemi Malaria.
5. Melakukan penyelaman dengan prosedur aman karena Biak tidak ada rumah sakit atau Chamber yang memadai.

Leave a Reply

Your email address will not be published.