Rani Maharani, Dosen yang Mengajar Anak Tak Mampu Secara Sukarela

Rani Maharani adalah seorang dosen dan peneliti di sebuah universitas negeri di Bandung. Ditengah kesibukannya mengajar dan meneliti ilmu sains yang rumit, Rani masih menyempatkan diri mengabdi pada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Di sana, wanita bergelar doktor tersebut rajin membagi ilmu tanpa dipungut biaya. Hal itulah yang membuat Rinrin Irma, temannya semasa kuliah, menjadikan Rani inspiring woman pilihannya.

Kekaguman Rinrin akan Rani telah dimulai sejak mereka masih di bangku perkuliahan. Rani yang memang dikenal pintar ini kerap berbagi ilmu kepada teman-teman sejurusan. Tak disangka, Rani pun akhirnya menjadi seorang pengajar di mata kuliah Kimia. Sebagai teman, Rinrin pun bangga ketika mengetahui Rani adalah kawan seangkatan dengan gelar doktor pertama.

Rinrin menceritakan menjadi pengajar sukarela awalnya memang bukan keinginan Rani. Mengetahui Rani adalah seorang dosen yang sukses, para tetangga menginginkan anak-anaknya untuk diajari. Wanita kelahiran Bandung 33 tahun yang lalu itu pun dengan senang hati menyanggupi. Bagi yang membutuhkan, Rani membuka rumahnya untuk belajar pada Minggu pagi hari. Baginya berbagi ilmu baik dengan mahasiswa maupun anak-anak membuatnya gembira dan merasa muda kembali.

“Lingkungan rumah Rani di Balai Endah itu memang masih tergolong desa. Banyak warga yang kurang mampu. Meski tidak dibayar, tapi Rani sering diantar makanan oleh orangtua si anak-anak,” ujar Rinrin, Ibu Rumah Tangga yang tinggal di Subang tersebut

Selain membagi ilmu di rumahnya, Rani juga menjadi guru di sebuah madrasah. Di sana, dia mengajar mata pelajaran IPA. Madrasah tersebut adalah milik sang suami yang baru berjalan sekitar enam bulan. Sekolah itu dibangun setelah usaha suami mengalami kegagalan. Dalam hal ini, Rinrin sangat mengagumi sikap Rani yang setia mendukung suami. Menurutnya, mereka adalah contoh pasangan yang harmonis.

“Waktu usaha suaminya bangkrut Rani sedang sekolah S-3 di La Trobe, Melbourne. Setelah menyelesaikan studinya, Rani dan suami langsung bersama-sama membangun dan mengajar di madrasah,” tutur ibu anak tiga ini.

Baik mengajar anak SMP atau mahasiswa ternyata memiliki tantangan yang tak jauh berbeda. Kepada Rinrin, Rani mengaku kerap menemukan pelajar yang sulit diatur dan menyepelekan pelajaran atau mata kuliah. Membangkitkan semangat anak-anak daerah juga menjadi PR tersendiri untuknya.

“Di sana banyak anak yang malas dan datang hanya ingin main-main saja. Tapi saya dengar sekarang makin banyak juga yang datang ke Rani. Sepertinya Rani mengubah metode mengajarnya menjadi lebih menyenangkan. Intinya sih dia ingin ilmu yang sudah didapat dibagikan lagi ke orang lain,” ungkap Rinrin mengakhiri perbincangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.