Soegija ( 2 )

Lanjutan dari Soegija

SugijaBung Karno sangat bangga sebagai satu satunya pemimpin dari negeri yang mayoritas muslim, yang pernah menerima penghargaan tertinggi dua kali dari Tahta Suci Vatican. Dia tak pernah tahu kalau aku selalu menceritakan kepada Sri Paus tentang kekagumanku pada dirinya. Aku – Soegija memang selalu menunjukan keberpihakan atas pikiran pikiran Bung Karno.

Pada masa itu, secara tradisional, Partai Katolik memang ‘ memusuhi ‘ Soekarno. Bahkan Uskup Agung Jakarta, Djajaseputra melarang sekolah sekolah Katolik di Jakarta untuk menaikan bendera saat kunjungan pemimpin Uni Sovyet, Krustjev ke Indonesia. Sebagai penentangan atas sikap politik Bung Karno.

Bersama partai partai lainnya, PSI, Masyumi. Partai Katolik menentang konsepsi demokrasi terpimpin, khususnya representasi Komunis dalam struktur politik bersama NU yang mewakili Islam, PNI mewakili golongan Nasionalis.

Pandangan politik gereja menjadi terbelah. Uskup Agung Jakarta Djajaseputra disisi lain, bersama tokoh tokoh Partai Katolik seperti IJ Kasimo, Frans Seda berhadapan denganku. Aku dan cabang Partai Katolik Jogyakarta justru menganjurkan agar Partai Katolik menerima demokrasi terpimpin.

Kelak ketika Bung Karno meminta Frans Seda sebagai Menteri Perkebunan,. Semula partai menolak ajakan ini, namun Frans Seda menerima tawaran Bung Karno setelah Jenderal Achmad Yani secara khusus meminta agar menerima tawaran ini, sebagai pribadi, bukan wakil Partai Katolik. Jenderal Yani, beranggapan Frans Seda penting untuk menghadapi agitasi komunis di kalangan buruh buruh perkebunan.

Tahun 1958 diriku diinterview wartawan asing yang dimuat dalam News Service National Chatolic Welfare Conference di Amerika. Dari situ wawancaraku disebarluaskan ke seluruh dunia.

Di situ aku menyalahkan sistem colonial Belanda yang menimbulkan kekacauan bidang pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Pembesar Belanda lebih memperhatikan golongan kecil seperti suku Ambon tapi melalaikan golongan terbesar bangsa Indonesia, yakni suku Jawa. Hanya sedikit orang Jawa diperbolehkan mengikuti pelajaran di sekolah sekolah. Sehingga tumbuh mentalitas yang salah di kalangan pegawai negeri, para ambtenaar. Mereka jadi terasing dari rakyatnya sendiri. But God created us as Javanesse. We have to stay Javanesse.

Sistem sekolah hanya menghasilkan juru tulis padahal kita membutuhkan sekolah teknik, sekolah pertanian, sekolah perdagangan.
“ It is because I proclame these ideas freely and openly that some people call me – Rama Komunis, the communist bishop. But this nothing to do with communism “.

Aku mengecam negara negara barat karena mereka hanya bersedia memberikan bantuan untuk maksud dan tujuan egoistis. Karena kaum komunis bertambah kuat, negara negara barat tidak mau memberi bantuan lagi. Penglihatan mereka terhadap komunis di Indonesia tidak obyektif. Banyak orang akhirnya memilih Partai Komunis Indonesia, karena kaum komunis menjanjikan kemajuan.

Menurutku tidak tepat Partai Katolik di Indonesia menjadi oposisi. Kita tidak mengenal oposisi loyal seperti di barat. “ So it would be better to cooperate and to fight the communism and other enemies of the church inside of the government. This course should give better results. What influence can Chatolics have in the government when they only abstain “

Aku merasa ditinggalkan sendiri oleh dunia Katolik di luar Indonesia. Kemana suara 450 juta umat Katolik dunia, kenapa mereka tidak mendengarkan kami rakyat Asia Afrika yang miskin dan terbelakang. Mengapa organisasi intelektual Katolik dunia, Pax Romana tidak pernah membela kepentingan rakyat miskin.

Karena aku terlalu membela rakyat, maka aku dianggap pro komunis.
Aku adalah nasionalis. Darahku selalu merah dan tulangku tetap putih. Menjadi Katolik sejati sekaligus mencintai negeriku.

Dalam perjalanan menuju sidang kedua Konsili Vatican, Uskup Sugijapranata meninggal dunia di Belanda pada tanggal 22 Jui 1963. Bung Karno masih tidur ketika ia dibangunkan ajudannya untuk menyampaikan berita kematian sahabatnya. Ia lalu memerintahkan untuk membawa jenasah sang Uskup pulang ke Indonesia. Bung Karno menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional saat itu.

Jenasah Uskup dibawa pulang dan dimakamkan di Taman makam pahlawan Semarang.
Diantara makam makam yang sederhana, dengan bentuk yang hampir sama. Berdirilah makam yang berbeda. Bung Karno menyumbang uang sendiri sebesar Rp .000.000,- untuk membangun sebuah makam peringatan di atas bukit kecil. Pada batu nisan tertera riwayat hidupnya dan juga lambang bintang Pancasila. Pada keempat tiangnya tertera tempaan besi keempat lambang Pancasila lainnya.

Sebuah peringatan cita citanya : 100 % Indonesia dan 100 % Katolik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.