Nias, Mitos yang terkuak ( 2 )

(Lanjutan dari Nias, Mitos yang terkuak ( 1 ) )
NiasHikayat, 50 tahun, menjadi semacam penerjemah bagi kami. Sebagaimana ciri manusia Nias. Ia berkulit putih dan bermata sipit. Entah kenapa, walau rata rata penduduk Bawamataluo bisa berbahasa Indonesia. Mereka enggan bercakap cakap bahasa Indonesia langsung dengan pendatang. Mereka selalu berbahasa daerah dengan sesamanya
Hikayat sekaligus memimpin ritual tarian tarian yang kami minta. Menjelaskan jenis jenis ritual yang akan dilakukan. Sebelumnya ia meminta kami menerima sambutan tuan rumah, yakni upacara makan sirih.
Ritual tariannya memang menggambarkan tradisi perang jaman dulu. Kalung besar dari kayu kelapa yang melingkar di leher, dan ikat pinggang bermata gigi gigi buaya menjadi pelindung alami tubuh mereka dari bacokan pedang lawan. Sekarang karena tak pernah ditemukan buaya, maka diganti dengan kayu kayu yang diukir berbentuk gigi buaya.

Penduduk Nias, terutama bagian selatan memang cenderung masih mempercayai animisme dan kekuatan kekuatan gaib, walau umumnya telah beragama Kristen. Sebelum Agama Kristen dan Katolik masuk, orang orang Nias memang memuja roh roh leluhur yang dianggap menguasai kehidupan seperti laut, sungai, hutan, pohon besar,batu besar, rumah dan sebagainya.
Mereka menjaga hubungan dengan kekuatan roh roh berupa pantangan pantangan dan ritual pemujaan yang bersifat komunal atau dalam lingkup keluarga.
Sampai sekarang kebiasaan itu tak pernah hilang. Orang Nias masih percaya dengan kekuatan yang dimilki benda tertentu seperti batu kecil, potongan kayu , gigi babi, roh, magic dan benda benda bertuah. Dibalik benda itu terdapat spirit yang bisa membuat empunya kebal, sakti dan memiliki keberuntungan.

Dalam atraksi ritual di Bawamataluo, dengan ratusan penari yang bersiap siap, ternyata harus dibayangi ketakuta hujan deras. Awan mulai menggantung dan langit mulai gelap. Ditambah seorang lelaki pemilik sebuah rumah di deretan rumah besar memasang kayu melintang di depan rumahnya.
Ia mengatakan bahwa penari tidak oleh melewati batas kayu yang ditentukan, yang artinya menginjak halaman rumahnya. Setelah mencari tahu, ternyata dia pernah sakit hati dengan kepala desa Bawamataluo.

Saat Kepala Desa menggelar hajatan atraksi tarian untuk kami dari Jakarta, Lelaki itu bertekad menggagalkan acara tersebut, dengan membuatnya hujan deras. Kami berbicara dengannya dan meminta pengertiannya. Akhirnya dia luluh, lalu tangannya menggeser sebuah batu dari bawah batu megalitikum. Ia hanya menggeser sejengkal lalu melingkari dengan batu kapur. Serta menarik kayu yang diletakan di jalan tadi. Aneh bin ajaib dalam hitungan detik, langit terbuka dan mendadak cerah.

Pemandu saya juga mewanti wanti untuk tidak sembarangan menerima makanan, minuman atau sirih yang disodorkan tuan rumah. Ini karena banyak terjadi perselisihan atau ketidak sukaan antar keluarga di kampung kampung. Sehingga jika ada tamu yang cenderung dekat dengan sebuah keluarga – tentu saja kami adalah tamu Kepala desa – maka keluarga lain yang merasa tidak suka akan melampiaskan dengan memberi racun pada tamunya.
Dalam banyak kasus perselisihan sering terjadi karena pemilihan kepala desa. Sehingga kepala desa terpilih sering menghadapi banyak musuh.

Orang Nias terkenal dengan racun yang bisa membunuh orang lain. Racun terbuat dari bisa binatang atau tumbuhan. Dale bercerita, seorang polisi asal tanah Batak yang baru berdinas beberapa hari di Teluk Dalam, tiba tiba meninggal setelah menerima suguhan di warung. Konon ia diracun karena kehadirannya tidak disukai disana.
Dulu ada peneliti asal UGM, Jajang A Sonjaya, sewaktu tinggal di Nias pernah diminta tidak memberi tahu tanggal kepulangannya ke Jogja kepada siapapun. Ini untuk mencegah ia diracun, dengan memasang di jalan setapak yang biasa ia lewati. Konon racun itu efektif pada korban yang hendak pulang ke pulau seberang.

Nias memang mempesona dengan mitosnya. Mereka percaya bahwa leluhur mereka turun dari langit. Cerita tentang turunnya manusia salah satunya ditemukan dalam sebuah hoho – tradisi lisan – yang ditulis oleh Ama Watilina Hia. Konon di Teteholiana’a, sebuah negeri di atas awan, terjadi pergumulan antara angin Metakheyo Simane Loulou dan angin Hambula. Kedua anging saling berseda gurau, berputar selama Sembilan bulan. Lalu keluarlah tangisan seorang bayi di Teteholiana’a.
Semua orang Nias, percaya bayi itu turun di desa Borunadu, masih di kawasan Nias Selatan.

Sayangnya Nias memang terabaikan oleh Pemerintah Pusat. Rakyatnya masih berkutat dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Entah kenapa potensi wisata yang besar ini tidak menjadi jaminan. Tak jauh dari pantai tempat saya belajar surfing, juga ada pantai Sorake yang pernah digelar kejuaraaan surfing kelas dunia. Deretan hotel hotel murah bercampur rumah penduduk terlihat berantakan. Padahal itu pantai pantai yang terkenal. Namun jika melihat infratrukturnya memang menyedihkan.

Dale , supir saya pesimis dengan Nias. Berbeda dengan penduduk pulau pulau lain yang percaya bisa hidup dengan menjual potensi wisata seperti Bali. Dale sendiri tak percaya Nias akan memberikan jaminan hidup layak.
Ia masih mengimpikan merantau ke Jakarta, karena melihat jalan masa depannya di tanah kelahirannya sangat jauh. Barangkali seperti petikan Hoho yang ditulis, ketika anak pertama sangat sulit menemukan jalan ke bumi.

….Lahirlah anak bernama Daulu yang seperti api.
Dialah disebut langit yang banyak.
Ia melihat ke atas, tak ada jalan lain melihat dunia.
Hampir tak tampak karena jauh sekali .

Tagged with

Leave a Reply

Your email address will not be published.