Catatan penutup Agustus: isu jilboob(s)

Ilustrasi • Foto: hypercityindia.com

Ilustrasi • Foto: hypercityindia.com

Di luar hiruk pikuk pilpres, Agustus 2014 juga didesak sedikit oleh tonjolan isu jilboob maupun jilboobs di media sosial. Jil itu dari “jilbab”;  boob(s)  berarti “payudara”. Maka ada awal bulan (7/8/2014) Majelis Ulama Indonesia pun menegaskan jilboobs itu haram.

“Sudah ada fatwa MUI soal pornografi. Termasuk itu tidak boleh memperlihatkan bentuk-bentuk tubuh, pakai jilbab tapi berpakaian ketat. MUI secara tegas melarang itu,” ujar Wakil Ketua MUI K.H. Ma’ruf Amin kepada Liputan 6.

Amin menambahkan, “Pertama kita menghargai mereka sudah mau berjilbab. Tapi kalau sudah pakai jilbab pakaiannya jangan seronok lagi.”

Isu menarik bagi negeri jiran

Princess Syahrini

Princess Syahrini

Isu jilboobs ini juga menjadi perhatian negeri jiran. Pekan lalu (22/8/2014) Khabar Southeast Asia membuat tajuk “MUI issues ‘jilboob’ fatwa”.

Most Muslim women, like me, we value our religion as important, but we still like to dress up,” demikian Dewi Santika (23), gadis Jakarta, menyatakan.

Khabar itu media siapa? Tertulis dalam About Us, “Khabarsoutheastasia.com is sponsored by the US Pacific Command, a joint military command responsible for US operations in 36 countries.

Dua pekan sebelumnya (12/8/2014) Wanista (Malaysia) dalam rubrik Fesyen menulis “Apa Yang Perlu Anda Tahu Tentang Fesyen Tudung ‘Jilboobs’ Yang Dilarang Di Indonesia”. Media itu mencontohkan halaman di Facebook yang mengompilasi sejumlah foto perempuan berjilbab dengan penonjolan payudara.

Terlaporkan di sana, “Seorang pereka fesyen dari Indonesia dengan labelnya Temiko, menyifatkan mungkin mereka kurang arif tentang cara berpakaian wanita muslimah sebenar. Sebaiknya jangan menghukum mereka, tetapi berilah nasihat yang berguna dengan cara komunikasi yang baik, bukan dengan cara mencela, mencaci, atau menghina.”

Sudah ada panduannya

jilboobs_mice

Versi kartun oleh Mice

Sebenarnya tentang busana muslimah yang sesuai syariat itu sudah dipandukan oleh sejumlah media umum maupun blog sebelum ada isu jilboobs. EraMuslim misalnya, pernah membahasnya pada 4 Muharram 1431 H / 30 Desember 2009, dalam rubrik Ustadz Menjawab.

Ada delapan poin, salah satunya, “Berbahan tebal dan tidak tipis yang dapat menjadikan apa yang ada dibalik pakaian itu terlihat (transparan).”

Poin lainnya, “Tidak menggunakan minyak wangi di pakaiannya. Tidak dihalalkan bagi seorang wanita mengenakan minyak wangi apabila dirinya keluar dari rumahnya berdasarkan sabdanya saw, ‘Siapa pun wanita yang mengenakan minyak wangi lalu melewati sekumpulan orang agar mereka mencium wanginya maka wanita itu adalah pezina’.” (HR. Nasai, Abu Daud dan Tirmidzi dia mengatakan hasan shahih).

Sedangkan di Twitter hari ini (29/8/2014), jilboob maupun jilboobs masih ditwitkan. Tapi pada 2011 sudah ada yang mengangkat “jilboob” dan pada 2012 ada yang menyebut “jilboobs”.

  1. Apa hubungannya dengan buah? #ngaco

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.