Perempuan, Islam dan Negara Kebangsaan

IndahDalam Islam, perempuan adalah istimewa. Islam menyematkan kemuliaan pada diri perempuan muslimah. Kehidupan perempuan muslimah dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.

Bagi suami, istri sangat diperlukan untuk menopang kehidupannya. Pasti sudah pernah mendengar kalimat: “Di balik lelaki hebat pasti ada wanita hebat di belakangnya.”

Bagi anak-anak, peran perempuan muslimah juga diperlukan dalam mendidik anak-anaknya. Tidak akan pernah ada keturunan yang hebat dan mampu menjadi panutan tanpa adanya peran ibu yang memberikan kasih sayang yang tulus dengan ajaran Islam di dalamnya. Ibu adalah guru pertama bagi manusia di masa kanak-kanak.

Alkisah, seorang ulama ditinggalkan ayahnya berjihad selama 30 tahun. Ibunya menghabiskan bekal yang diberikan ayahnya sebelum berangkat hanya untuk kepentingan pendidikan anaknya, sehingga sang anak berkembang menjadi seorang ulama dan pemuka Madinah, bahkan Majelis yang dibuatnya dihadiri oleh ulama – ulama besar seperti Malik bin Anas, Abu Hanifah, An-Nu’man, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Sufyan Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-Auza’I, Laits bin Sa’id dan lainnya.

Perempuan muslimah pernah dicap sebagai wanita lugu dan pendiam. Perannya begitu kecil atau bahkan dianggap tidak bisa berbuat banyak dalam kehidupan bernegara. Kita nyaris tenggelam dengan gencarnya promosi kaum laki-laki yang lebih dahsyat sehingga seolah-olah menjadi tameng kegelapan bagi masyarakat. Banyak yang lupa bahwa masih banyak kaum wanita yang memberikan peran penting. Ikut menjadi bagian dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Ratusan tahun yang lalu, sudah ada wanita pemberani yang mahir memegang pedang dan terjun di medan perang. Dia bernama Shahabiyah Ummu Imarah. Dialah wanita pertama yang mati syahid. Shahabiyah Ummu Imarah memilih menggunakan pedangnya untuk membela nabi Muhammad daripada digunakan untuk berburu atau pun juru masak.

mesjid merah putihIslam maju dan berkembang pesat dengan berbagai ilmu pengetahuan yang ditinggalkan Rasulullah. Hal ini tidak lepas dari peran wanita yang cerdas dan mampu menjadi ahli Fiqih dalam waktu 80 tahun, dialah Siti Aisyah. Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw. 1.210 hadits adalah bukti bahwa Siti Aisyah adalah perekam kelakuan dan perkataan yand dikerjakan Rasulullah. Hingga Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban dari sisinya.”

Kisah Aisyah dengan kecerdasannya yang luar biasa tersebut banyak menginspirasi wanita sekarang. Di masa modern ini, ada banyak tokoh wanita muslim dunia yang menjadi pembicaraan masyarakat dunia. Salah satunya adalah Shirin Ibadi, dialah pengacara asal Irak yang menjadi wanita muslim pertama di dunia yang mendapatkan Nobel perdamaian. Dia menghabiskan masa hidupnya untuk menyuarakan pentingnya demokrasi bagi kemajuan muslim.

Peran Wanita Muslim dalam Bernegara dan Berkebangsaan di Indonesia

Menurut sejarah berdirinya bangsa Indonesia, perempuan sudah terlibat dalam kehidupan bernegara pada masa penjajahan. Sebagai contoh, Presiden RI Pertama, Soekarno, pernah mengadakan “kursus wanita”. Dari hal itu terlihat bahwa perempuan menjadi sosok yang penting dalam kehidupan bernegara.

Dalam masa merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah, tak sedikit perempuan Indonesia yang bahu membahu dengan para lelaki berjuang untuk negara. Pasti sudah banyak yang tahu tentang Cut Nyak Dien, Rangkayo Rasuna Said, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, Malahayati, dan lainnya yang dikenal sebagai perempuan pejuang Indonesia.

Memang pada masa itu, perempuan tidak banyak mendapat kesempatan lebih banyak dari laki-laki, namun itu tak menyurutkan para perempuan gigih itu untuk memperjuangkan negara Indonesia dari tangan penjajah.

Tanpa keraguan meski dalam segala keterbatasan, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Malahayati, Martha Christina mempertaruhkan nyawa melawan penjajah. Perempuan yang tak gentar menghadapi para lelaki yang menjadi musuh mereka. Kegigihan yang patut dicontoh perempuan Indonesia sekarang ini.

Bagaimana dengan sekarang ini?

Islam memposisikan perempuan dalam posisi mulia. Sebagaimana pada jaman Rasulullah S.A.W, perempuan muslim diperbolehkan memberi pendapat, menjadi penasehat, terlibat dalam sistem sosial masyarakat, termasuk memberikan pengajaran kepada kaum lelaki.

Di Indonesia, banyak perempuan sudah terlibat dalam pemerintah, dewan legislatif atau pun pemberi keputusan dalam organisasi. Perempuan atau muslimah yang berhasil pekerjaannya tanpa melupakan kodratnya sebagai ibu dan istri. Misalnya saja, perempuan yang menjadi Walikota, Lurah, Camat, Gubernur bahkan menjadi presiden seperti Megawati Soekarnoputri.

Namun sayangnya, masih banyak yang meragukan kemampuan dan potensi perempuan untuk memimpin. Coba cari artikel tentang penolakan walikota atau lurah perempuan yang marak diberitakan.

Masih ada yang menganggap perempuan menyalahi kodratnya ketika menjadi pemimpin, apalagi jika mayoritas bawahannya adalah lelaki. Perempuan tidak layak memimpin atau menjadi pemimpin para lelaki. Perempuan adalah jamaah, yang harus dibelakang laki-laki yang menjadi imam.

Padahal, Islam tidak melarang perempuan/muslimah bekerja di luar rumah, yang utama adalah pembagian yang sama rata antara keluarga dengan pekerjaan. Muslimah yang bekerja di luar rumah harus bisa menyeimbangkan antara keluarga dan pekerjaannya.

Bagaimana dengan aktif dalam kenegaraan? Muslimah harus terlibat aktif dalam negara berkebangsaan. Muslimah harus berani mengeluarkan suaranya, pendapatnya dalam negara. Harus semakin banyak lagi perempuan atau muslimah yang terlibat dalam negara kebangsaan.

Tak ada larangan bagi muslimah untuk terlibat aktif dalam berkenegaraan. Yang utamanya, ketika terlibat aktif, muslimah harus bisa menjaga keluarganya menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan waromah.

Sedangkan dalam negara Indonesia, terkait dengan UU No. 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, adalah hak setiap warga negara Indonesia memiliki hak yang sama di muka hukum dan politik tidak memandang jenis kelamin maupun keyakinannya.

Tidak ada keraguan lagi, kalau perempuan atau muslimah harus terlibat aktif dalam melaksanakan aktivitas kenegaraan. Hak semua perempuan Indonesia untuk berperan penting dalam bernegara dan berbangsa Indah

* Indah Julianti Sibarani – blogger @IndahJuli tinggal di Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.