Politik Pontius Pilatus Demokrat dan nasgor 10 bumbu

Ilustrasi • Foto: Gunawan Kartapranata - CC BY-SA .0

Ilustrasi • Foto: Gunawan Kartapranata – CC BY-SA .0

Di akhir periode kekuasaaannya, Partai Demokrat tetap bermain sebagai entertainer: ingin semua pihak tak sakit hati. Lalu ditambah jurus baru yaitu cuci tangan.

Apa itu Pontius Pilatus? Nama gubernur Romawi di Palestina. Sebagai penguasa (penjajah) dia bisa menentukan apakah Isa sebagai warga jajahan bersalah. Rahib Yahudi mengatakan Isa bersalah (dari perspektif agama), tapi dari hukum sipil tak ada kesalahan. Ketika desakan kaum konservatif kian kuat untuk menyalib Isa (=menyiksa sampai mati), Pilatus memilih cuci tangan. “Gue kagak mau ikut-ikutan, itu masalah kalian,” kira-kira begitu katanya.

Bagaimana Pilatus ala Demokrat? Di ujung pemahasan RUU Pilkada (25/9/2014 sampai 26/9/2014 dini hari) anggota Demokrat di DPR walkout, lalu ngumpet di kantor masing-masing, setelah diam-diam ngacir. Ibas termasuk di dalamnya. Mirip cara Pilatus yaitu cuci tangan. Apapun jadinya Pilkada, Demokrat tidak bertanggung jawab, itu masalah Koalisi Merah Putih maupun Koalisi Indonesia hebat

Bagaimana jurus entertainer Demokrat? Yah, seperti grup musik yang suka bawain evergreen dan Top 20 di kafe dan kondangan supaya semua tamu doyan. Lagu kuno Sepanjang Jalan Kenangan dan Kemesraan bisa diaransemen secara jazzy, pop akustik, dan ngegroove. Seolah bervariasi tapi isi lagunya kan sama.

Begitulah garis policy Demokrat. Ingin puaskan semua pihak supaya tak ada yang sakit hati. Lebih baik bus tidak kemana-mana, tapi di dalamnya ada nyanyian, puisi, dan makanan lalu penumpangnya ngantuk puas daripada bus pergi ke pantai tapi bikin kuciwa yang mau ke gunung.

Kalau 10 syarat Demokrat? Sebenarnya cuma lip service supaya Demokrat kelihatan sebagai pihak yang punya prinsip dan berkarakter, tidak asal pro-Pilkada-langsung. Sebagai peseta penting tapi bermain belakangan, Demokrat bergenit-genit caper dengan jualan “pilkada langsung dengan catatan perbaikan”.

Jualan “nasi goreng dengan 10 bumbu” itu untuk mengulur waktu dan menunda klimaks. Ketika semua orang sudah capek eh malah ditinggal pergi. Salah PDIP kenapa suka kepada bebera bumbu lalu membelinya padahal gak ada imbalan.

Dalam proses beberapa hari menuju klimaks, Demokrat sengaja membiarkan indikasi mengambang. Kalau ada anggota fraksi yang membelot itu bukan masalah Senayan tapi masalahnya SBY. Itulah jurus melalui Ketua Fraksi Demokrat Nurhayati Ali Assegaf yang tak menjamin semua anggotanya loyal, sehingga sebelum terjadi sudah pasang kuda-kuda, “Sanksi diserahkan kepada Dewan Pimpinan Pusat.”

Bagaimana sejarah akan mencatat? Sebuah partai yang punya 148 kursi tak bisa tegas “ya” (bergabung ke KMP) atau “tidak” (bergabung ke KIH). Ketegasan (bedakan dengan keterburu-buruan) memang barang mahal. Dua kali Demokrat memimpin, pengumuman kabinet selalu diundur-undur. Untuk kasus lain ketidaktegasan partai ini dan pemimpinnya, silakan Anda googling.

Leave a Reply

Your email address will not be published.