Apa beda cerdik dan licik?

Gambar asli milik NefosNews - Mohon maaf tidak minta ijin

Gambar asli milik NefosNews – Mohon maaf tidak minta ijin

Kasus terkhianatinya rakyat karena pengesahan UU Pilkada membuka kembali definisi “cerdik” dan “licik”. Keduanya bisa mirip tapi sebenarnya beda.

Persamaan keduanya adalah menggunakan akal untuk mencapai tujuan. Kadang akal biasa, kadang akal-akalan (berbau tricky).

Kalau cerdik itu pihak yang melakukan maupun yang jadi sasaran sama-sama mengakui ada akal yang kreatif dari pelaku. Pihak yang tergarap memang bisa tidak diuntungkan tapi tak dapat diperkatakan “dirugikan”, terus lebih penting lagi bisa terhibur dan terkesan.

Contohnya: kalau naik angkot sambung ojek Anda bisa habis Rp4.000 + Rp10.000. Tapi kalau numpang mobil teman yang lewat tol dan keluarnya dekat pangkalan ojek, ada dua pilihan. Kalau cuma sekali dua kali Anda duduk manis. Kalau agak sering, Anda yang bayarkan tiket tol Rp7.500. Nilai Rp7.500 tetap lebih kecil dari (Rp4.000 + Rp10.000 = Rp14.000). Anda hemat Rp6.500, tiba di rumah lebih cepat. Pemilik mobil punya teman ngobrol.

Kalau licik? Anda maunya gratis, bahkan sekali waktu mem-fait-accompli pemilik mobil. Baru jalan 100 meter ada teman Anda gabung. Selama perjalanan ada yang pura-pura tidur, demam, dan stres. Pokoknya tidak perlu keluar uang karena pemilik mobil antarkan Anda sampai rumah. Si pemilik mobil sampai di rumah mau tidur sadar waktu baca tweet Anda, “org smart tahu cara naik mbl scr gratis”. Kalau pemilik mobil tidak happy, tidak geli, bahkan merasa dikadali, lalu sebal dan kapok, berarti Anda licik.

Tapi… itu tadi licik level . Masih kentara. Kalau yang advanced, pemilik mobil tak pernah merasa dikadali tapi orang-orang tahu, hingga tibalah hari pencerahan – tapi sudah terlambat

Leave a Reply

Your email address will not be published.