Episode selanjutnya: pilpres via MPR

Prabowo naik kuda • Foto: Tempo (tanpa ijin)

Prabowo naik kuda • Foto: Tempo (tanpa ijin)

Apa yang dikhawatirkan sebelumnya akhirnya mulai menjadi wacana, yakni pemilihan presiden oleh MPR karena lebih berjiwa Indonesia. Kalau amandemen berhasil, Bowo lebih berpeluang karena bisa mengendalikan pemilih.

Beritakabar.com | Mulai kentara gelagat Koalisi Merah Putih (KMP) untuk mengarahkan pilpres oleh MPR, bukan melalui coblosan langsung, sebagai episode lanjutan setelah menguasai kepemimpinan DPR dan mengatur pilkada oleh DPRD. Yang mulai terang-terangan bersuara misalnya PAN, anggota KMP. Dari Demokrat ada yang mendukung.

Wakil Seljen PAN Herman Kadir: pilpres secara langsung itu produk Barat • Foto: hermankadir83.blogspot.com

Wakil Sekjen PAN Herman Kadir: pilpres secara langsung itu produk Barat • Foto: hermankadir83.blogspot.com

Siapa orang yang mengusulkan? Namanya Herman Kadir, jabatannya Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional. Kemarin (Ahad 28/9/2014) dia katakan, “Kalau pilpres langsung menimbulkan konflik, saya pikir harus dicabut.”

Pemilihan langsung tak sesuai dengan Indonesia? Menurut keyakinan Herman begitu, malah dia katakan bahwa pemilihan langsung itu produk Barat. Menurutnya yang tepat itu demokrasi yang diwakilkan kepada parlemen.

Adakah pendukungnya? Yang terang-terangan misalnya Hayono Isman, dulu orang Golkar sekarang anggota DPR dari Demokrat. “Kalau Koalisi Merah Putih bisa menguasai DPRD dan kepala daerah, menguasai MPR pun bisa. Maka, melakukan amendemen mudah sekali,” katanya.

Apa keuntungan bagi Prabowo? Kalau pilpres dilakukan oleh 692 anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (yang 560 kursi dari DPR, yang 132 kursi dari DPD) maka relatif lebih mudah mengendalikan mereka daripada mengendalikan 181 juta pemilih seperti pilpres lalu – lima tahun mendatang lebih banyak rakyat yang berhak memilih karena usia minimum.

Demokrasi langsung telah memberi pelajaran kepada Bowo, bahwa sepuluh tahun bermain akhirnya dikalahkan peserta baru yang tiba-tiba masuk gelanggang. Nama peserta baru itu Jokowi, yang menggandeng orang lama bernama Jusuf Kalla. Lihat arsip: Salah Jokowi kenapa menang dan Opera KMP: obrak-abrik sirkuit

| Dari berbagai sumber a.l.: Tempo, Jurnal Parlemen, blog Herman Kadir, Info Pemilihan

Leave a Reply

Your email address will not be published.