Sungguh bijak Golkar, mengimbau pihak lain legawa

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung • Foto: JPNN (tanpa ijin)

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung • Foto: JPNN (tanpa ijin)

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung meminta masyarakat maupun elite partai lain tidak menganggap partai-partai anggota Koalisi Merah Putih terlalu ambisius mengincar kekuasaan.

Kutipan pembuka berita Kompas itu seakan mendinginkan suasana. Apalagi hal itu diucapkan Akbar seusai shalat Idul Adha di markas DPP Golkar di Slipi Jakarta, pagi tadi /10/2014.

“Jangan diartikan Koalisi Merah Putih ambisinya ingin menguasai atau ingin jadi pimpinan semata,” kata Akbar.

Aduh, Bang Akbar lupa bahwa rakyat yang mengikuti media sudah punya kesimpulan sejak awal, sebelum Mahkamah Konstitusi menolak gugatan perubahan UU MD3, sebelum DPR mengesahkan UU Pilkada.

Apa boleh buat, MK sudah memutuskan dengan dua hakim memberikan catatan keberatan. Perubahan UU MD3 diajukan oleh kubu Prabowo setelah melihat hasil pileg. Bukan diajukan jauh hari sebelum pemilu. Artinya soal motif perlu dipertanyakan hingga akhir zaman.

“Semangat kami untuk menduduki kursi kepemimpinan tidak lain untuk mampu meningkatkan peran dan fungsinya (DPR dan MPR) dalam pembangunan nasional ke depan,” kata Akbar lagi.

Aduh lagi untuk si Abang. Semua orang tahu ini kata-kata pemanis bibir. Tak beda dengan perwira polisi yang anak buahnya salah gebuk orang (ternyata jurnalis bertugas) dalam menghadapi demonstran, sampai cedera berat, “Kami harus menegakkan ketertiban, tak pernah ada maksud membuat cacat jurnalis.” Manis sekali. Yang tak diucapkan adalah gumam hati, “Masih untung pale loe kagak dipecahin.”

Sejarah tak boleh melupakan semua skandal politik ini. Kita beruntung ada internet yang mengarsipkan semua kabar.

Memang tak semua kabar benar karena media juga bisa salah. Tapi dari semua asrip berita orang-orang akan menilai mana saja yang tergolong kepura-puraan bahkan dusta dan fitnah sebelum hari pencoblosan.

Orang akan menimbang dua arus praktek politik sejak sebelum hari pencoblosan hingga anggota baru DPR dilantik. Pertama adalah politik sebagai kegembiraan nasional, yang tak menistakan lawan yang kalah – bahkan ketika dianiaya dan dicurangi tak membuat amuk karena edukasi politik adalah soal akhlakul karimah. Kedua adalah politik penuh hawa nafsu kekuasaan, tujuan boleh menghalalkan cara, lalu setelah tercapai baru berlagak bijak, meminta semua pihak legawa.

Mengerikan. Praktek yang kedua itu laku, dan pelakunya mengatasnamakan amanat rakyat.

Lebih mengerikan lagi, jenis pendidikan paling efektif adalah praktek sebagai contoh.  Ketika Anda membawa anak kecil teroboslah lampu merah, sehingga tak perlu mengucapkan, “Lampu lalu lintas boleh diterobos, jangan pedulikan keselamatan orang lain.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.