Akal-akalan presensi DPR demi gaji dan keputusan rapat

Tatib baru DPR dalam tweet Rieke Diah Pitaloka (PDIPP

Tatib baru DPR dalam tweet Rieke Diah Pitaloka (PDIP)

Tata Tertib untuk DPR mengubah esensi presensi, dari kehadiran fisik (lama) menjadi “pokoknya tanda tangan” (baru) – meski bolos  dihitung hadir.

Ini bukan semata-mata persoalan honor dan gaji yang berkaitan dengan tenggung jawab mengikuti dan membahas masalah dalam rapat, tapi soal lebih jauh yaitu hak suara dalam pengambilan keputusan.

Jikalau pakai Tatib lama, suara dihitung dari batang hidung anggota DPR yang hadir dalam sidang. Dengan Tatib baru, yang diutamakan adalah tanda tangan sebagai bukti tertulis kehadiran.

Artinya adalah jika ada anggota DPR yang setelah tanda tangan sebelum rapat, lantas pergi main golf atau hanya tiduran di ruang kerjanya, hal itu bisa saja terjadi tapi hak suaranya tidak hilang.

Mungkin kelak di kemudia hari mereka akan usulkan perubahan tata terib sekolah untuk anak-anaknya, yang penting pernah tercatat hadir pada suatu hari dan dicaat mengikuti semua pelajaran. Mereka kelak juga akan mengubah tata tertib KUA maupun kantor pencatatan sipil supaya saat menikahkan putrinya itu mempelai pria cukup tanda tangan di parkiran. Siapa tahu kan?

Partai apapun yang kemarin Anda pilih, dan siapapun calegnya, sebagai warga negara yang membiayai wakil rakyat sudah sepantasnya Anda menimbang apakah aturan ini masuk akal dan sesuai hati nurani Anda?

Ketika kemenangan, kejayaan, dan kemuliaan hanya menjadi tujuan, maka rakyat bisa melihat bahwa apapun dapat dikorbankan tanpa rasa malu. Tak ada lagi martabat dan kenegarawanan.

Sebelumnya negara diperlakukan darurat, genting memaksa, sehingga pelantikan ketua dan wakil-wakil ketua DPR dilakukan menjelang pukul tiga pagi. Acara nasional yang dinantikan segenap rakyat dilakukan diam-diam saat jam tidur.

Mereka memberi contoh bahwa pemilu yang mahal itu akhirnya tidak perlu kalau hasilnya cuma begitu. Menyedihkan. Mengerikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.