Hikmah untuk Jokowi dan Puan

Puan, Megawati & Jokowi saat Pemilu 2014 • Foto: Dok. Perpustakaan Nasional

Puan, Megawati & Jokowi saat Pemilu 2014 • Foto: Dok. Perpustakaan Nasional

Ada hikmah dalam melihat hantaman terhadap Jokowi dan PDIP. Mungkin kejam dan penuh kezaliman tapi inilah latihan untuk mematangkan seorang Jokowi dan Puan Maharani.

Menilik pemberitaan media, ada yang menarik dari sikap Jokowi selama menghadapi gempuran Koalisi Merah Putih (KMP) yang dimotori Prabowo, yakni menahan diri. Jokowi tak mau terpancing ke dalam negative speech.

Hal lainnya adalah berlagak optimis. Mungkin itu pencitraan tapi tetap perlu. Kalau Jokowi menunjukkan kepanikan dan stres sejak awal, pengikutnya malah kecewa. “Sampean kok tertekan padahal dibela rakyat,” begitu kira-kira respons rakyat.

Bukan hanya optimis, Jokowi juga menyiratkan kesiapan untuk berdialog dengan lawan yang moderat. Ini wilayah sulit karena di satu sisi realitas politik menuntut hal itu, termasuk memberikan konsesi kepada lawan, namun jika porsinya terlalu banyak bisa bikin kecewa pendukung. Bukankah sejak awal Jokowi bilang takkan bagi-bagi kekuasaan?

Sedangkan dari sisi Puan, dalam umurnya yang 41 tahun mungkin baru sekarang mengalami dicurangi, diakali, dan diliciki. Dia tak dapat kursi Ketua DPR karena pihak lawan langsung mengganti UU MD3 begitu tahu hasil pileg. Belum lagi perasaan menanti dan dipermalukan, misalnya oleh SBY c.q. Demokrat, saat pembahasan RUU Pilkada.

Tapi yang dialami Puan itu tak seberat perjalanan ibunya, Megawati, yang mengalami diganjal oleh Orde Baru. Puncaknya terjadi pada Peristiwa 27 Juli 1996, yang mengakibatkan orang meninggal dunia, 149 orang luka-luka, 136 orang ditahan). Saat itu Mega sudah berusia 49 tahun.

Babak kedua muncul pada 1999, saat Mega sudah 52 tahun. PDIP adalah pemenang pemilu yang diikuti 48 partai (melonjak 16 kali dari partai saat Pemilu 1997), meraih 33,74% ksuara. Tapi kalau lawan bersatu, apalagi dengan jurus atas nama agama bahwa “perempuan tidak boleh memimpin”, Mega tak bisa jadi presiden pilihan MPR.

Kwik Kian Gie, waktu itu masih di PDIP, uring-uringan karena merasa dikadalin di mana-mana. Dalam sudut pandang kajian politis, Golkar yang diasumsikan kekuatan nasionalis sekular pun mestinya menempel ke PDIP. Golkar menjadi nomor , meraih 22,44% suara. Sisanya, dari partai Islami, yang besar katakanlah PPP (10,71%) dan PAN (7,12%), jelas mengganjal Mega.

Saat itu sejumlah kalangan menyalahkan PDIP karena dianggap kaku, tak luwes dalam kompromi. Mega yang pendiam adalah personifikasi objek tudingan – beda dari (di kemudian hari) Taufiq Kiemas, suaminya, yang dipandang lebih supel dan sekaligus kompromis.

Situasi serupa yang kini dihadapi oleh Puan sebagai ketua fraksi PDIP. Dia yang sedang disiapkan ibunya, sehingga pemilu lalu berani psang target 27,02%. Nyatanya PDIP meraih di bawah cita-cita: 18,95%. Tapi itu pun tetap menang. Angka segitu, biarpun dibantu Nasdem, Hanura, PKB (dan akhirnya PPP), toh tetap jadi bulan-bulanan saat pemilihan ketua DPR dan MPR.

Masa sulit ini adalah ujian. Bagi Jokowi dan PDUP berarti juga ujian untuk meniti seni berpolitik yang bisa mengecewakan yaitu kompromi.

Perubahan dari pihak lawan juga masih mungkin diharapkan. Misalnya jika yang menang Munas Golkar nanti orang moderat, bukan Ical, mungkin pendulum bergeser mendekati Jokowi. Respon beberapa partai KMP bahwa mereka takkan mengikuti irama Hashim dan Prabowo merupakan pertanda. Orang-orang non-Gerindra itu masih ragu apakah kader bisa menolerir kalau langkah mereka terlalu jauh meninggalkan aspirasi rakyat.

Selain itu adalah kepentingan abadi, bukan perkawanan abadi. Pembagian kue kuasa di DPR dan MPR sudah selesai. Untuk jabatan penting di pemerintahan (100 pos, kata Hashim) tergantung proses politik berikutnya. Tentu jangan dilupakan faktor Partai Demokrat dan SBY yang selalu menyebut diri “netral, di luar pemerintahan” itu…

Leave a Reply

Your email address will not be published.