Ahok repot soal cawagub, Taufik mau jadi gubernur, Yani nongol

Ditinggal Jokowi, Ahok direpoti cawagub. Ahok mau A, PDIP menolak. Ahok mau B, Gerindra ogah. Eh, Taufik Gerindra mau jadi bos DKI, Ahok tetap wakil. Ahok berkelit, sodorkan perempuan birokrat nonpartai.

Sarwo Handayani • Foto: Berita Jakarta

Sarwo Handayani • Foto: Berita Jakarta

Beritakabar.com | Drama siapa calon Wakil Gubernur DKI masih bergulir karena komunikasi politik tak lancar. Tiga calon yang ada ditolak oleh PDIP maupun Gerindra. Ahok Kamis lalu (24/10/2014) tambahkan satu nama, orang non-partai, Sarwo Handayani, yang dijanjikan bisa bekerja profesional.

Maka yang terjadi mirip komedi melingkar-lingkar dalam pentas Srimulat. Mbulet kata orang Jawa. Hal mudah dibikin rumit karena ego. Di sisi lain, Ahok yang lempang dan keras, dan mudah terpancing kalau diberi umpan negatif, tak seluwes Jokowi dalam mendekati lawan. Jokowi lebih bisa menahan diri, kalau sudah mentok tak malu memberi muka kepada lawan dengan sowan.

Siapa saja cawagub yang sudah ditolak? Ada tiga. Nachrowi Ramli (Demokrat) dan Boy Sadikin (PDIP). Calon dari Gerindra belum jelas, terakhir (versi Ketua DPP Gerindra Desmin Mahesa) adalah Ahmad Muzani. Sebelumnya adalah M. Taufik, Ketua DPD Gerindra DKI.

Nachrowi? Ketua DPD Partai Demokrat DKI itu ditolak oleh PDIP maupun Gerindra. Kedua partai merasa lebih berhak mengusung cawagub, tak usah ada orang dari partai lain.

Boy Sadikin? Ketua DPD PDIP DKI itu ditolak oleh Gerindra karena partai itu, sebagai salah satu pengusung paket Jokowi-Ahok dalam Pilgub 2012, merasa berhak atas cawagub pendamping Ahok kelak. Jokowi dulu bawaan PDIP, masa cawagub juga dari PDIP. Boy, putra Ali Sadikin, punya jasa besar untuk memenangkan Jokowi-Ahok dalam Pilgunb 2012.

M. Taufik (maupun Ahmad Muzani) dari Gerindra? Juga sama: ditolak oleh PDIP. Di DPRD DKI ada 106 kursi. Gerindra punya 15 kursi (nomor dua terbesar), dan PDIP 28 kursi (nomor satu terbesar). Dalam Pilgub 2012, Jokowi dulu diangkut oleh PDIP dan Ahok oleh Gerindra – tapi Ahok sudah cabut dari Gerindra.

Apakah Ahok punya calon sendiri? Ada tiga orang. Yang pertama Nachrowi tadi, bahkan sudah dia nyatakan terbuka di depan tokoh-tokoh Betawi. Yang dua lainnya adalah Djarot Sjaiful Hidayat (eks-Walkot Blitar, orang PDIP) dan Bambang D.H. (eks-Walkot/Wawalkot Surabaya, orang PDIP; pernah jadi tersangka kasus tipikor). Ketiganya ditolak oleh Gerindra maupun PDIP.

Lalu kenapa Ahok menyorongkan Sarwo Handayani? Ada dua alasan. Pertama: Yani (nama panggilannya) bukan orang partai manapun melainkan birokrat karier. Kedua: sebagai Deputi Gubernur DKI bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, dan lama di Bappeda, Yani paham cara memajukan Jakarta.

Apakah Sarwo Handayani akan diterima? Belum tampak gelagat welcome, yang muncul masih isyarat penolakan. Jhonny Simanjuntak, Ketua Fraksi PDIP, tak setuju karena, “Kami masih punya kader yang mumpuni.”

Lantas kenapa M. Taufik mau jadi gubernur supaya Ahok tetap wagub? Mungkin hanya canda buat memanaskan politik. Hanya dengan satu pasal, yakni pasal 173 Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1/2014 tentang Perubahan Pemilihan Kepala Daerah, Taufik dan Gerindra menafsirkan jika gubernur mundur harus dicari pengganti melalui pemilihan oleh DPRD. Wagub tak otomatis jadi gubernur.

Ahok meradang dan berkomentar, “Dalam Perpu itu terdapat pasal 203 yang berbunyi, ‘Jika gubernurnya berganti, secara otomatis wakilnya yang akan naik’.”

Kalau itu yang terjadi (Taufuk jadi gubernur), Ahok akan mengundurkan diri dan pulang ke Belitung. Apakah itu yang dikehendaki warga DKI?

| Dari berbagai sumber a.l.: Kompas, DPRD DKI

Leave a Reply

Your email address will not be published.