Susi, Rokok, Tattoo, Bra sampai Menteri  

Susi 2Pasca pengumuman nama-nama menteri oleh Presiden Jokowi, muncul reaksi pro kontra masyarakat. Salah satu yang cukup ‘panas’ memancing reaksi terutama di media sosial adalah Susi Pudjiastuti, (mantan) CEO Susi Air. Dari sekian banyak komentar tentang perempuan pengusaha yang hanya berijazah SMP ini, bisa dikategorikan menjadi dua yaitu komentar yang menyoroti prestasinya dan komentar yang menyoroti penampilan dan kelakuannya yang nyentrik. Yang terakhir ini malah menjadi santapan empuk para penggosip, terutama hobinya merokok dan tatto di kakinya. Bahkan ada yang menyoroti kebiasaannya yang konon sering tanpa bra.

Saya tak tahan untuk tidak tergoda mengkaitkan antara penampilannya yang eksentrik dan pencapaiannya. Kita semua tahu bahwa bidang kerja yang digeluti Bu Susi didominasi lelaki dan ‘keras’. Sejak awal ia sudah terjun sendiri di lapangan sehingga ia tahu betul kondisinya bagaimana, sedangkan seperti saya ini hanya mengira-ira. Dari asumsi tersebut sebenarnya tidak usah heran kalau Susi tampil nyentrik di mata kebanyakan masyarakat.

Ada penelitian menarik mengenai sosok pemimpin/pengusaha perempuan yang sukses di dunia kerja yang dominan laki-laki. Rata-rata mereka bersikap dan berpenampilan kelelakian. Misal potongan rambut, gaya berpakaian yang lebih ke maskulin minimal androgini, gaya berbicara tegas dan to the point, hingga perilaku seperti tak segan-segan mengangkat kaki jika sedang duduk atau duduk begitu saja di trotoar. Sikap-sikap tadi memang sangat erat kaitannya dengan gender, disebut juga ‘male leadership trait’. Dari survey yang pernah dilakukan terhadap 2000 perempuan pada tahun 2012, 47% percaya bahwa bersikap dan berprilaku seperti laki-laki membuat mereka lebih diterima dan dipercaya di tempat kerja. Bisa jadi penampilan cukup feminin (memakai rok dan berambut panjang) tapi bersikap keras dan tegas, misal seperti Margaret Tatcher. Sedangkan tattoo, rokok, baju androgini, potongan rambut dll sebenarnya simbol untuk lebih menegaskan pesan kesetaraan.

Nah menurut Anda, apakah perempuan untuk bisa survive di dunia lelaki harus mengadopsi sikap dan penampilan laki-laki? Sampai mana hal tersebut bisa diterima? Atau mungkin ada yang mau berbagi pengalaman sendiri?

 

  1. sebagian kita memang terlalu asyik mengamati bungkus Med, makanya banyak produk berisi angin surga yang dikemas secara bagus bisa laris manis 😀

    menjawab pertanyaan paragraf terakhir, untuk bisa survive di tengah2 dunia pria, wanita mungkin memang perlu mengadopsi sedikit sikap pria (sikap2 positif spt tegas, nggak kebanyakan bimbang dll), tapi kurasa tak harus mengadopsi penampilannya. Tapi kalau ada wanita yang berpenampilan pria, ya itu kembali pada individu itu sendirilah. dan penampilan, seharusnya tak perlu menjadi tolok ukur utama dari sebuah pencapaian 😀

    Reply
  2. Gak masalah. Soal tato kan seperti orang lain pake cat kuku atau makeup mata atau pakai pakain rapat tertutup. Soal selera. Kalo merokok ya tegantung lingkungan dia menolerir tidak, tapi di instansi pemerintah dan kantor Susi Air mungkin beda aturan loh 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.