Neo-Golkar dan Sekolah Politik Golkar

Kalaupun lawan Ical besok bikin partai tandingan, atau hijrah ke partai lain, itu cuma another Neo-Golkar dari alumni Golkar School of Politics.

Aburizal Bakrie, Ketua Umum Golkar, pose Oktober 2014 • Foto: Antara

Aburizal Bakrie, Ketua Umum Golkar, pose Oktober 2014 • Foto: Antara

Jadi, mau ke mana Agung Laksono, Yorrys Raweyai, Priyo Budi Santoso, dan lainnya yang berseberangan dengan Aburizal Bakrie? Kata Agung, kalau kalau aturan partai bikin sesak napas akan terjadi “sesuatu yang tidak diharapkan”.

Mungkin mereka bikin wadah baru, atau pindah ke partai lain yang mau menerima. Bagaimanapun Golkar sudah membuktikan diri sebagai alma mater yang kuat bagi alumninnya.

Untuk partai sempalan misalnya, sudah ada tujuh. Mereka adalah Partai MKGR (1999; Mien Sugandhi; dulunya MKGR salah satu “kino” bersama Kosgoro dan Soksi; pemilu 1999 dapat 0 kursi), Partai Patriot (2001; Yapto Soerjosoemarno, pemilu 2009 dapat 0 kursi), PKPS (1999;Edi Sudradjat; 1999: 6 kursi, 2004: 1 kursi, 2009: 0 kursi), dan Partai Karya Peduli Bangsa (2002; Tutut Soeharto & Hartono; 2004: 2 kursi, 2009: 0 kursi). Ada pula Partai Hanura (2006; Wiranto; 2009: 18 kursi, 2014: 16 kursi), Partai Gerindra (2008, Prabowo; 2009: 26 kursi, 2014: 73 kursi), dan Partai Nasdem (2011; Surya Paloh; 2014: 35 kursi).

Kalau nilai-nilai Golkar disebut Golkarisme, maka isme itu sudah menyebar. Nah sebagai isme, daoatlah diseserhanakan bahwasnya penyebaran ismenya itu melalui pribadi tertentu. Tengoklah partai-partai yang menampung alumni Golkar.

Di Nasdem ada Ferry Mursyidan Baldan (51), eks-Ketua Umum HMI. Di PDIP ada Tjahjo Kumolo (57), bekas Ketua Umum KNPI. Dulu sebagian tokoh organisasi ekstra universiter memang menjadikan KNPI sebagai tangga karier politik dengan ujung dermaga bernama Golkar –– Theo Sambuaga (65, GMNI, aktivis UI era Malari 1974) adalah satu contoh. Kelak jika Hajriyanto Thohari, eks-aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yang kini menjadi lawan Aburizal Bakrie, pindah ke partai lain, maka makin banyak Golkar Diaspora.

Bagi partai penerima pelarian, kalau orang-orang eks-Golkar itu dapat posisi mungkin mengulang pemeo “anak kos” –– pernah terjadi di PDIP, sejumlah orang baru menggeser kader loyal.

Dulu ketika TV swasta muncul, pemasok tenaga terampil adalah TVRI. Ketika bank swasta bermunculan, pemasok bankir adalah Citibank. Dan ketika firma akuntan bermunculan, pemasoknya adalah SGV Utomo. Awal-pertangahan 2000-an ketika rumah produksi bikin infotainment untuk TV, salah satu pemasok peliput dan editornya adalah koran-koran kota dari grup Jawa Pos. Untuk partai politik, Golkar adalah sekolah. Mirip dengan lembaha-lembaga tadi.

Memangnya isme Golkar itu apa? Salah satunya adalah sekularisme –– tapi jarang diakui, lagi pula Golkar juga pernah mengembangkan sayap Islami untuk membendung PPP dan NU; PDIP juga punya sayap Islami. Sedangkan Partai Demokrat, yang juga dimasuki orang eks-Golkar (misalnya Ruhut Sitompul, 60), menempuh jalan tengah dengan slogan “nasionalis religius”.

Tapi… menyebut Golkar sebagai partai sekular juga gegabah. Beberapa daerah yang kahirnya memiliki perda syariah itu kepala daerahnya diusung oleh Golkar dan… PDIP!

Leave a Reply

Your email address will not be published.