Lookism: Cantik-Cantik Jual Gethuk  

lookism

Jagad maya dilanda kehebohan karena sosok penjual gethuk cantik bernama Ninih. Gadis asal Indramayu ini ‘ditemukan’ saat berjualan di jembatan penyeberangan di Jakarta. Begitu fotonya menyebar, langsung jadi viral di sosial media karena kecantikannya. Fenomena seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya tercatat beberapa kali sosok berwajah rupawan dengan profesi ‘unik’ seperti tukang tambal ban cantik, petugas KRL ganteng, lurah ganteng, polwan cantik, dan lain-lain. Sebenarnya kita bertemu orang-orang dengan pekerjaan tersebut setiap hari, tetapi karena kebetulan orangnya berwajah menarik, langsung menyedot perhatian.

Tidak hanya di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi di Amerika. Di twitter sempat ramai hashtag #AlexFromTarget dan dibahas di berbagai media. Alex, dari seorang remaja yang bekerja paruh waktu menjadi kasir di supermarket Target, menjadi seleb twitter dengan ratusan ribu follower. Ia mendadak terkenal sejak fotonya diunggah ke sosial medi dan menuai respon gegap gempita. Alex menjadi terkenal bukan kebetulan, ia dikaruniai wajah cakep dan imut ala artis remaja masa kini. Faktor rupawan inilah yang membuat sosok Alex menjadi fenomenal, sama seperti Ninih, penjual gethuk.

Mempunyai wajah cantik/tampan memang modal yang cukup signifikan dalam hidup bermasyarakat. Ada semacam kepercayaan yang tersimpan di alam bawah sadar kita bahwa “what is beautifull is good”. Maksudnya, stereotype bahwa mereka yang berpenampilan menarik pasti baik hati, lebih pandai, bisa dipercaya, ramah, dsb memang benar ada di masyarakat. Mental shortcut ini sebenarnya strategi kita sebagai individu untuk mencerna dan memilah informasi yang membanjiri kita. Selain itu teori psikologi evolusi menjelaskan mengapa kita lebih mudah tertarik kepada orang asing yang berwajah menarik, yaitu didorong keinginan kita survive. Sebagai makhluk ultra sosial, kita terdorong untuk bergabung/berkelompok dengan orang yang mempunyai karakter positif sebagai upaya untuk bertahan hidup (lebih mudah menyelesaikan masalah dengan berkelompok daripada menghadapinya sendirian). Mereka yang berwajah menarik dipersepsikan mempunyai karakter positif seperti disebutkan di atas. Ketika orang-orang dengan profesi jauh dari glamor dan bukan selebritis ternyata berpenampilan araktif pasti lebih eye catching bagi masyarakat umum. Memang sih, menilai seseorang berdasar penampilannya rentan dengan bias dan mempengaruhi obyektivitas (dalam psikologi disebut Halo Effect).

Selain itu fenomena ini semakin mengukuhkan apa yang disebut dengan lookism dalam masyarakat. Definisi lookism adalah prasangka/diskriminasi berdasarkan penampilan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita tidak bisa lepas sama sekali dari sikap lookism. Berdasar penjelasan psikologi diatas, lookism bersifat instingtif untuk memilah informasi. Selain itu media juga semakin menyuburkan lookism ini. Misal seperti Ninih, sejak fotonya tersebar, ia kebanjiran tawaran tampil di acara talkshow televisi bahkan tak mungkin ditawari jadi artis sinetron. Apakah lookism hanya berlaku untuk mereka yang berwajah cantik? Melihat tayangan variety show pertelevisian Indonesia, sepertinya lookism berlaku untuk mereka yang berada di ‘percentil ujung’ kurve normal. Alias kalau nggak cantik/ganteng banget, sekalian jelek banget. Contoh artis yang penampilannya tidak ganteng/tidak cantik yaitu Sule, Budi Anduk, Caisar Putra Aditya/Cesar Joget YKS, Elly Gigi dll. Mereka tidak ganteng dan tidak cantik (standar ganteng/cantik yang berlaku dalam norma masyarakat umum saat ini) tetapi bisa juga jadi seleb.

Jadi tidak usah heran dengan fenomena ganteng-ganteng petugas KRL atau cantik-cantik jual getuk.  Selama masyarakat masih tertarik dengan wajah menawan, maka fenomena lookism akan terus ada.

  1. Cantik dan ganteng itu penting tapi cantik lebih penting banget buat kesan pertama. Kalo dalemnya (hati) gak cantik ya itu kan belakangan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.