Bosan, Poligami, Promiscuity, dan Coolidge Effect

coolidge effect2

Suatu ketika ada pasutri yang bertanya, bagaimana caranya menghindari kebosanan pada seks, padahal dulu sebelum menikah seks sangat menarik dan mereka bisa melakukannya 3x sehari. Kini tiga bulan sekali sudah bagus. Jawabannya, faktor yang membuat bosan bukan pernikahannya tetapi karena partner yang sama. Tentu saja ini adalah humor ‘kejam’ tetapi bisa jadi ada benarnya lho.

Pernah mendengar tentang Coolidge Effect?

Coolidge effect adalah fenomena yang biasa ditemui pada mamalia (termasuk manusia) dimana jantan (kadang juga ditemui pada betina) menurun performa seksualnya terhadap pasangan kawinnya, tetapi begitu dihadapkan pada betina baru maka performanya langsung naik lagi. Fenomena ini terutama bisa ditemui pada tikus, sapi, kambing. Menurut penelitian, pejantan ini bahkan menolak betina yang sudah pernah ia kawini dan lebih memilih betina lain, meskipun betina tersebut sudah disamarkan sedemikian rupa.

Pada manusia, kita pasti familiar dengan keluhan klasik pasutri. Setelah sekian tahun menikah mengapa ketertarikan pada seks menurun, terutama pada lelaki. Kasus dimana laki-laki ‘impoten’ jika berhubungan seks dengan istrinya tetapi ketika intercourse dengan wanita lain tidak ada masalah sama sekali, juga bukan hal baru. Impotensi semacam ini sangat besar kemungkinannya tidak terkait dengan hal medis tetapi sosial. Bisa jadi hal ini merupakan  bentuk Coolidge Effect.

coolidge effect1

Apakah perempuan juga bisa mengalami bosan terhadap pasangannya dan lebih bergairah jika ada partner baru? Tentu saja. Secara jumlah mungkin tidak sebanyak laki-laki. Kultur patriarkhi cukup mempengaruhi hal ini, karena perempuan sejak dulu sudah diatur untuk bersikap tertutup terhadap kebutuhan seksualitasnya dan disuruh untuk pasrah menerima saja. Sehingga banyak perempuan yang merasa tak pantas jika merasakan bosan terhadap pasangannya. Selain itu norma masyarakat lebih bisa menerima jika lelaki mempunyai banyak pasangan daripada perempuan yang begitu.

Hormon yang bertanggung jawab atas Coolidge Effect adalah dopamin. Dopamin sering dikaitkan dengan kasus kecanduan. Dopamin memang bertugas mengkontrol sensasi reward dan rasa senang/puas pada otak, dopamin juga mengatur dorongan/motivasi dan respon emosional, terutama pada jalur mesolimbik. Karena itu dopamin jalur mesolimbic sering juga disebut hormon motivasi.  Nah pada Coolidge Effect, ketika seseorang bercinta dengan pasangan baru, ada lonjakan dopamin jalur mesolimbic pada otaknya.  Tak heran jika ia menjadi semacam ‘ketagihan’ untuk merasakan lagi sensasi tersebut dan mendorong keinginan untuk bercinta dengan sebanyak mungkin orang yang berbeda-beda. Pertanyaannya, bagaimana bisa fenomena ini merupakan hal yang sifatnya natural, padahal bisa merusak psychological well being (menurut penelitian, mereka yang menuruti dorongan Coolidge Effect tidak mengalami perubahan pada psychological well beingnya dan mempengaruhi hubungannya dengan pasangannya).

Menurut psikologi evolusi, fungsi dopamin ini sangat berguna di masa lalu ketika nenek moyang kita harus berjuang mencari makan dan bertahan hidup di tengah kerasnya lingkungan. Dopamin juga mendorong nenek moyang kita untuk mempunyai keturunan sebanyak-banyaknya dengan berbagai pasangan sebagai strategi survival. Di jaman sekarang ini ketika stimulus datang membanjiri indera kita tanpa harus susah-susah mencarinya, menuruti dorongan Coolidge Effect malah bisa menjerumuskan kita ke masalah. Jika Coolidge Effect mengancam perkawinan, stimulus untuk merangsang dopamin bisa dilakukan dengan misal mencoba posisi seks yang berbeda, lokasi bercinta yang menantang, intinya kita sebagai individu yang jauh lebih beradab daripada nenek moyang kita mustinya lebih kreatif mencari solusi. Setuju?

Leave a Reply

Your email address will not be published.