Kenapa rupiah payah, lalu apa akibatnya

Satu dollar bisa jadi Rp13.000. Setiap kurs melemah Rp100, defisit anggaran bertambah Rp940,4 miliar. Pengusaha sesak napas, buruh bisa tercekik.

Dollar sedikit, rupiah banyak. Artinya rupiah kalah nilai • Foto: Antara

Dollar sedikit, rupiah banyak. Artinya rupiah kalah nilai • Foto: Antara

Beritakabar.com | Penyebab melemahnya rupiah ada dua dan diaukui oleh Menkeu Bambang Brodjonegoro. Pertama (eksternal) adalah psikologi moneter dunia yang merujuk The Fed (bank sentralnya Amerika Serikat). Tanggal 19 Desember The Fed akan memutuskan suka bunga akan naik jadi berapa. Ketidakpastian membuat banyak pihak berduit ingin pegang dollar.

Kedua (domestik) adalah defisit transaksi berjalan. Selain itu dollar lagi dibutuhkan oleh korporasi Indonesia untuk bayar utang dan deviden. Sejumlah negara juga mengalami guncangan kurs macam ini. Rupiah secara harian melemah 2%, Rubel Rusia 10,2%, dan Lyra Turki 3,4%.

Dari sisi utang pemerintah dan korporasi, setiap depresiasi Rp100 per dollar AS bikin biaya bunga utang naik Rp207 miliar. Artinya, kalau rupiah melemah Rp1.000, bunga utang naik Rp 2 triliun. Jadi masalah karena 80% 0% korporasi debitor valas tak melakukan hedging (lindung nilai), utang harus dibayar sesuai kurs saat jatuh tempo. Kalau rupiah semakin termehek, korporasi bisa kolaps.

Kalaupun tak ada utang valas, pengusaha tetap repot karena bahan baku impor naik harga, padahal sebelumnya harga BBM juga naik. Tapi kalau UMP, misalnya di DKI, tak direvisi (tetap Rp2,7 juta) padahal biaya hidup meroket, bisa muncul amarah buruh.

Berat dong? Di ranah ekspor ada harapan. Harga jualan, kalau dirupiahkan, jadi cerah.

Dari berbagai sumber a.l.: Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published.