Indonesia Peringkat Kelima untuk Transportasi Publik Paling Tidak Aman

Kecelakaan yang menimpa penerbangan Air Asia QZ8501 menyebabkan buntut panjang berupa ribut-ribut kelayakan angkutan udara terutama dari segi keamanan. Masih berhubungan dengan angkutan umum terutama transportasi massa, perempuan ternyata masih menjadi warga kelas dua kalau menyangkut kenyamanan naik tansportasi publik. Masih ingat beberapa kasus yang mencuat di media sosial, di mana perempuan menjadi sentralnya? Selain itu banyak kasus pelecehan hingga perkosaan terjadi menimpa perempuan di angkutan seperti metromini, bis hingga taksi. Mirisnya, walau perempuan masih menjadi kelas dua, sesama perempuan tak menjamin mempunyai empati dan kepekaan terhadap perempuan lainnya. Kalau menilik beberapa keluhan, ada penumpang perempuan yang pura-pura tutup mata melihat perempuan lain yang membutuhkan pertolongannya.

Thomson Reuters Foundation bulan Oktober 2014 meranking  transportasi publik di 16 negara, dari yang terburuk hingga paling aman bagi penumpang perempuan. Ada enam indikator yang dijadikan tolok ukur menentukan peringkat tersebut, yaitu tingkat keamanan di malam hari, tingkat kerentanan penumpang perempuan mengalami verbal harassment, seberapa tinggi penumpang perempuan mengalami pelecehan fisik, bagaimana reaksi masyarakat/sesama penumpang terhadap penumpang yang menjadi korban, tingkat kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah terutama yang berkaitan, dan tingkat keamanan kota pada umumnya.

Dari 16 negara tersebut, Jakarta berada di peringkat kelima untuk negara dengan tingkat keamanan rendah terutama untuk konsumen perempuan. Agak lebih baik dibanding New Delhi yang berada di peringkat 4 dan kalah sedikit dibandingkan Buenos Aires di peringkat 6. Yang membedakan dengan New Delhi adalah, tingkat keamanan memakai public transport di Jakarta di malam hari lebih baik daripada di New Delhi yang sangat rendah tingkat keamanannya. Yang menarik, tingkat kepercayaan responden di New Delhi terhadap institusi pemerintahan terkait lebih tinggi daripada responden Jakarta. Mereka percaya bahwa polisi akan menangani dengan baik laporan pelecehan yang dialami di public transport dibandingkan responden Jakarta yang lebih pesimis dengan polisinya.

Seharusnya dari 6 indikator tadi, pemerintah dan institusi terkait bisa memperbaiki tingkat transportasi publik menjadi lebih nyaman dan aman. Sarana seperti wifi, TV layar datar dan sebagainya tak ada artinya jika keenam indiktator tadi masih rendah alias tak aman untuk penumpang. Sandainya ada audit terhadap transportasi massa, apa yang paling Anda inginkan untuk terlebih dulu diperiksa? Terhadap kenyamanan angkutan umum, sebagai penumpang apa yang paling Anda inginkan harus ada di angkot/metromini/bis kota?

  1. Negeri yang terlalu pisan euy!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.