The Next Superfood: Kaldu

PhotoGrid_1421843583152

Kaldu telah lama dikenal sebagai salah satu dasar masakan berkuah. Dari sup, bakso hingga ramen semua menggunakan kaldu. Setiap rumah memiliki resep kaldunya sendiri. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, semangkuk sup terbuat dari kaldu gurih dan hangat melambangkan cinta ibu mampu menambah selera makan. Sup dari kaldu merupakan comfort food yang lebih sehat dibandingkan dessert bergula.

Saat ini di Amerika terutama New York sedang trend kaldu sebagai minuman kesehatan, berkat Brodo, kedai yang menjual khusus kaldu dan bisa dinikmati seperti kita menikmati Starbuck. Kaldu ini terbuat dari tulang sapi organik (hanya makan rumput terbaik dan bebas pupuk pestisida) dimasak minimal 8 jam dengan api kecil sehingga menghasilkan kaldu lezat dan konon sangat menyehatkan. Tidak kurang dari seleb seperti Kobe Bryant hingga ‘health gurus’ sibuk mempromosikan trend kuliner sehat terbaru ini. Para penganut paleo diet turut berjasa melambungkan trend kaldu tulang menjadi the next super food dan masuk dalam jajaran trend diet terbaru menggeser trend raw juice, bahkan dinobatkan menjadi salah satu .

Sebagai kedai kaldu pertama di dunia, Brodo merupakan restoran ‘minuman’ kaldu take away yang bisa diminum layaknya minum latte. Ditambah iming-iming berbagai khasiat kesehatan jika rajin minum kaldu, konsumen rela mengantri untuk segelas kaldu organik. Fenomena ini menjadi bahasan berbagai media, bahkan Harpers Bazaar pun membahasnya. Disebut-sebut mempunyai khasiat super seperti mengurangi kerut, kulit jadi makin bersinar, rambut dan kuku kuat, detoks, hingga mengurangi sakit sendi. Klaim kesehatan inilah yang membuat kaldu tulang menjadi booming.

Berbagai pro dan kontra tentang manfaat kaldu pun mengemuka. Salah satunya yang mengkritisi berbagai manfaat super kaldu. Klaim kesehatan yang banyak disebut para health gurus dan selebritis dan testimoni konsumen sebenarnya belum didukung bukti empiris penelitian ilmiah. Jurnal yang memuat nutrisi kaldu masih sedikit sekali, salah satunya jurnal kesehatan yang memuat penelitian tahun 1934. Disebutkan bahwa nutrisi yang terkandung dalam cairan kaldu yang sudah direbus paling sedikit 8 jam, maka kandungan mineral yang tersisa bisa dibilang sangat sedikit. Karena itu berdasar penelitian tersebut, berbagai klaim super akan manfaat kaldu sesungguhnya diragukan hingga ada penelitian terbaru yang bisa mendukung testimoni tersebut. Tetapi tak ada salahnya jika kita menikmati kaldu sebagaimana adanya, seperti yang sudah-sudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.