Megawati itu lucu

GarinAlkisah, suatu hari Megawati merayakan hari jadi PDI-P di Semarang dengan berkendaraan becak berdua dengan sahabatnya. Celakanya, Bapak Tukang Becak bertubuh kurus dan pendek, sementara becak Semarang besar dan tinggi sehingga kaki tukang becak hanya menyentuh ujung-ujung pedal pengayuh.

Sementara, suasana hiruk-pikuk masa PDI-P menyambut dengan pekik ”merdeka” membahana. Lebih celaka lagi, Bapak Tukang Becak yang simpatisan PDI-P ikut mengacungkan tangan ke atas meneriakkan kata ”merdeka”, berganti tangan kanan dan kiri, melepas kemudi sembari terus mengayuh becak. Alhasil, becak yang membawa Megawati dan sahabatnya berjalan serong kanan-kiri seperti becak mabuk. Megawati lalu meminta Bapak Tukang Becak tidak perlu mengacungkan tangan dan melepas kemudi becak, namun yang terjadi Bapak Tukang Becak malah menegur Megawati tentang semangat kemerdekaan ala Bung Karno dan terus mengacungkan tangan ke atas berteriak ”merdeka” , becak pun tidak berhenti serong kanan dan kiri.

Kisah lucu di atas dituturkan ketika mengobrol dengan Megawati dan beberapa sahabat terdekatnya sewaktu masih menjabat Wakil Presiden. Bagi saya pribadi, banyak kisah lucu yang bisa dituturkan Megawati, kisah yang kadang memperolok nasib dirinya, menunjukkan dimensi humanis yang langka direkam banyak orang.

Kisah dari Megawati terkadang menjadi seloroh getir, merepresentasikan drama politik besar yang menimpa dirinya sejak kecil, remaja hingga masa sekarang. Simak, cerita sederhana Megawati ketika bertutur periode menjelang berakhirnya kepemimpinan ayahnya-Presiden Soekarno, yang dituturkan datar serta sedikit seloroh, namun menyimpan pengelolaan perasaan.

Megawati tidak secara langsung bertutur tentang daya tahan kesabaran perasaannya, ketika dirinya diminta ayahnya menjamu nasi goreng dengan ramah untuk sejumlah pemimpin mahasiswa yang datang menemui Bung karno di Istana Negara. Sementara Bung Karno mengetahui bahwa mahasiswa-mahasiswa itu akan menggulingkannya.

Kisah sederhana di atas, menunjukkan suatu hal yang penting, yakni insting politik disertai kesabaran revolusioner yang sudah terlatih menjadi bagian kehidupan Megawati melewati berbagai zaman. Sebuah insting politik bercampur antara warisan keluarga dan pengalaman pribadi yang menjadi kecerdasan politik instingtif yang tidak dipunyai dan bisa diajarkan di kampus-kampus.

Ketahanan dalam drama besar politik tersebut terbaca menjadi daya hidup Megawati dan PDI-P dewasa ini. Simak, sikap diam dan terkadang terkesan mengurung diri, namun kemudian melakukan keputusan yang jitu dalam momentum tertentu. Ambillah contoh, keputusan memilih Jokowi sebagai kandidat presiden.

Alhasil, meski ia dicitrakan lawan politiknya dengan stereotip ”keras hati, tidak terlalu pandai, dan pengendali partai dengan keputusan serba individu”, sesungguhnya lawan politiknya sering tidak berdaya menghadapi kecerdasan instingtif politik Megawati dengan langgam keras hati itu.

Tersebutlah Megawati menghadiri kongres di Bali. Malam hari sehabis kongres, Megawati ingin kuliner. Ia keluar ke lobi hotel bertemu seseorang yang bersiap di depan lobi. Megawati memintanya mengambil mobil dan mengantarnya berkeliling. Selepas berkeliling, Megawati balik ke hotel, keanehan muncul, seseorang yang menyetir tersebut ternyata disambut oleh istrinya yang kebingungan di lobi sibuk mencarinya. Selidik punya selidik, ternyata seseorang yang dikira sopir panitia kongres adalah tamu hotel yang akan menjemput istri, namun kekagumannya kepada Megawati menjadikannya menuruti perintah Megawati dan merelakan dirinya menjadi sopir sementara waktu.

Kisah di atas menunjukkan kekuatan Megawati sebagai ibu ideologi bagi massa PDI-P dan pengagum Soekarmo, yang melahirkan kesetiaan yang tak tergantikan, layaknya hubungan psikogis ibu dan anak. Pada perspektif ibu ideologi ini, sesungguhnya nilai kekuatan langka yang tidak dimiliki ketua partai lainnya.

Catatan di atas menjadi peta sederhana yang menarik justru ketika Megawati telah bersedia memimpin kembali PDI-P dan pemerintahan Jokowi menghadapi realitas politik yang mulai dipenuhi ketegangan relasi dan kritik. Sementara, di tengah politik diam Megawati yang melahirkan beragam interpretasi, semua bertanya : Bagaimana sesungguhnya peran ibu ideologi?

Garin Nugroho – Budayawan / Sutradara Film ( Sebagaimana dikutip dari Harian Kompas tgl 25 Januari 215 )

Leave a Reply

Your email address will not be published.