Mencoba Ekstrim Kuliner Enthung, Alternatif Sumber Protein

10933960_10204484081755115_1275120510478817992_n

Ekstrim kuliner kebanyakan identik dengan makanan dari binatang langka, tidak biasa atau menjijikkan. Padahal dengan makin tingginya kesadaran lingkungan, seharusnya hasrat memanjakan indera pencecapan tidak usah bertabrakan dengan lingkungan sehingga mengancam kelestarian hewan. Salah satu ekstrim kuliner yang bisa dicoba tanpa harus khawatir mengancam kelestarian alam adalah kuliner khas di Jawa Timur khususnya Kabupaten Madiun.

Kondisi Kabupaten Madiun yang tak begitu subur cocok untuk bertanam pohon jati, karena itu tak heran jika banyak hutan jati di sekitar Madiun, kebanyakan milik Perhutani. Siapa sangka salah satu hasil sampingan hutan jati selain kayu adalah sumber protein yaitu enthung. Enthung sebenarnya adalah kepompong ulat jati, karena ada banyak pohon jati maka enthung ini banyak dijumpai di daerah yang banyak pohon jatinya. Selain Kabupaten Madiun, Anda juga dapat menemui enthung di kawasan hutan jati di Bojonegoro, Ngawi, Cepu dan Gunungkidul. Tetapi di Gunungkidul yang lebih dikenal adalah belalang daripada enthung.

Anda dapat menjumpai enthung di musim hujan, karena pada musim ini kupu-kupu mulai bertelur. Pada musim ini banyak penduduk berburu enthung sebagai salah satu sumber protein yang cukup murah dahulunya. Sekilo enthung jauh lebih murah daripada telur apalagi daging. Kandungan gizi enthung sendiri kaya dengan protein. Menurut penelitian Universitas Setiabudi tahun 2012 yang membandingkan kandungan gizi enthung dan ikan mas, ternyata kandungan protein enthung jauh lebih tinggi dibanding ikan mas yaitu mencapai 52% berat kering dibanding ikan mas sebesar 13%. Karena itu tak heran jika sumber pakan satu ini bisa mengakibatkan alergi bagi yang sensitif berupa bentol-bentol gatal di kulit atau biduran.

Cara mengolah enthung sendiri cukup mudah. Setelah enthung dicuci bersih, maka enthung tersebut bisa direbus dulu sebelum digoreng atau langsung digoreng dengan bumbu-bumbu di dapur. Di Jawa Timur biasa diolah dengan bumbu gurih seperti bawang putih dan garam, sedangkan di Gunungkidul biasa diolah bumbu manis atau bacem. Nah jika anda tertarik mencoba ekstrim kuliner yang satu ini, jangan lupa perhatikan musimnya apakah sudah masuk musim enthung atau belum.

Tagged with
  1. Ihhh gimana itu rasanya? Ada-ada saja selera orang yah

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.