Densus tangkap ISIS

Tim Detasemen Khusus Antiteror 88 dan anggota Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap lima orang terduga pengikut kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Tangerang Selatan, Sabtu lalu.
Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono mengatakan polisi menangkap Koswara dan Furqon di Tambun, Bekasi, serta Amin Mude di Perumahan Legenda Wisata, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Adapun Aprimul Hendri ditangkap di Petukangan, Jakarta Selatan, dan Tuah Febriwansyah bin Arif Hasruddin alias Fahri di Pamulang, Tangerang Selatan. Khusus Fahri dipersangkakan UU No 15/2003 ttg Pemberantasan Teror, UU No 9/2013 tentang Pemberantasan pendanaan Teror, juga UU No 8/2011 ttg ITE, serta Makar.

Fahri diduga terlibat sebagai pelaksana dalam pembinaan, pengarahan, dan perekrutan simpatisan ISIS untuk berangkat ke Irak dan Suriah baik secara langsung dan melalui internet dan pengumpulan serta penyaluran dana untuk kegiatan sukarelawan ISIS di Indonesia untuk berangkat ke irak dan Suriah.
Selain itu MF adalah pemilik website www.almustaqbal.net yg mengupload berita2 provokasi dan kebencian serta ttg ajakan bergabung dengan ISIS. ybs jg diduga yg membuat dan mengupload VIDEO PELATIHAN ANAK OLEH ISIS di Youtube.

Dalam penggeledahan itu, polisi menyita beberapa barang bukti, seperti buku-buku jihad, seragam, dan bendera ISIS. Barang-barang lain yang disita adalah 5 unit laptop, 9 telepon seluler, paspor dan tiket pesawat, senjata tajam, serta senjata api mainan.

Berdasarkan pemeriksaan sementara, menurut Unggung, Furqon adalah residivis kasus teror di Jawa Timur. Pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat, itu diduga memberangkatkan 37 orang ke Turki, termasuk 16 orang yang sudah ditangkap di Turki dan akan dipulangkan ke Tanah Air.

Sedangkan Koswara berperan merekrut calon anggota ISIS dan mencari dana. Aprimul sebagai pembantu yang membiayai ISIS. Amin Mude yang menampung dan memberangkatkan orang-orang itu ke Suriah.
Aprimul Henri, Koswara, Amin Mude dan Furqon dipersangkakan UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Teror, UU No 9/2013 ttg Pemberantasan pendanaan Teror, serta Makar.

Mereka diduga terlibat sebagai pelaksana dalam pembinaan, pengarahan, dan perekrutan simpatisan ISIS untuk berangkat ke Irak dan Suriah dan pengumpulan serta penyaluran dana untuk kegiatan sukarelawan ISIS di Indonesia untuk berangkat ke irak dan Suriah, termasuk dokumen paspor.

Masalah radikalisme ISIS tidak bisa semata ditumpas dengan mudah, karena akar permasalahan ada di tataran ideologi dan akar rumput Organisasi Islam moderat seperti Muhammadiyah dan NU bisa mengambil peran pendidikan kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.