Wawancara khusus dengan Sekjen PAN – Eddy Soeparno

eSSecara mengejutkan Eddy Soeparno muncul sebagai Sekjen Partai Amanat Nasional dalam kepemimpinan Zulkifli Hasan. Untuk itu kami mewawancara sosok yang sudah sekian tahun malang melintang sebagai bankir profesional dalam Lembaga keuangan Internasional. Dalam suatu sore, kami mewawancarainya selepas jam kantor di bilangan Kuningan

Bagaimana kisahnya anda bisa terpilih jadi sekjen PAN, bukankah selama ini sosok Eddy Soeparno tidak pernah kelihatan dalam structural partai

Saya telah menjadi kader partai sejak tahun 2002, namun belum pernah duduk di struktur kepengurusan karena profesi saya sebagai bankir dan praktisi keuangan, baik di lembaga keuangan internasional, maupun di sektor industri ketika menjabat sebagai Direktur Keuangan di sebuah perusahaan publik di Jakarta

Ada pertimbangan lain yang mengatakan bahwa kedekatan anda Amien Rais menjadi kunci terpilih sebagai sekjen PAN. Bisa diceritakan ?

Meskipun saya belum pernah duduk sebagai pengurus partai, namun di tahun 2004 saya turut memimpin tim pemenangan “Amien Rais for President”. Walaupun tim kami belum berhasil memenangkan beliau dalam pemilu 2004 dan setelah itu saya melanjutkan karir saya selaku praktisi perbankan dan keuangan, hubungan pribadi saya dengan beliau tetap berjalan akrab dan hangat

Apakah benar bahwa kubu Hatta Rajasa ‘ di habisi ‘ dalam kepengurusan PAN kali ini ? Banyak suara banyak kader pro Hatta Rajasa di daerah justru disingkirkan.

Anggapan dan pandangan demikian tidak akurat dan perlu dikoreksi. Ketika Kongres PAN ke IV di Bali berakhir pada tanggal 2 Maret 2015, para kader partai melebur kembali menjadi satu kesatuan yang solid sebagai kader PAN (dan bukan kubu HR ataupun ZH). Dalam kepengurusan DPP PAN masa bakti 2015 – 2020, banyak diantara anggota timses HR duduk sebagai petinggi partai, seperti Jon Erizal, Reza Rajasa dan A. Hafiz Tohir

Sekjen adalah motor organisasi. Bagaimana rencana anda menghadapi Pilkada mendatang dan secara khusus, menghadapi pileg dan pilpres 2019

Saya tidak dalam kapasitas untuk menjabarkan rencana dan strategi partai dalam menghadapi Pileg dan Pilpres di tahun 2019. Namun alasan mengapa saya menyambut tawaran menjadi Sekjen PAN, semata-mata karena Pak ZH selaku Ketum berkomitmen untuk menjadikan PAN sebagai partai modern dan rumah besar bagi bangsa Indonesia. Dan kalau kita bicara “partai modern”, kita harus merancang dan mengimplementasikan system, prosedur dan proses yang jelas. Nah pengalaman saya di sektor korporasi yang terbiasa dengan “systems & procedures”, “best practices” dan “proper business procedures” inilah yang kelak akan saya terapkan untuk menjadikan PAN partai modern yang didambakan para kader dan simpatisannya

Bagaimana strategi PAN dalam merangkul kaum muda dan terutama Netizen, generasi yang akrab dengan internet ini.

Ada pepatah mengatakan, generasi tua berbicara tentang sejarah tapi generasi muda akan menentukan arah sejarah. Kami melihat bahwa anak muda akan menjadi salah elemen penting dalam pemenangan partai. Ini bisa dilihat bahwa pengguna internet di Indonesia tahun 2014 mencapai hampir 90 juta orang, yang mana sebagian besar di dominasi generasi muda ( rentang usia 18 – 35 tahun ). Dari gambaran ini, kami memang harus bisa aktif terlibat dalam komunitas komunitas dan masyarakat netizen. Tentu kami tidak bisa melakukan komunikasi ‘hard sell ‘ , karena netizen ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan masa akar rumput. Mereka lebih kritis tapi sekaligus obyektif dalam melihat permasalahan. Dari percakapan yang terjadi di social media, kita bisa memahami persoalan bangsa ini serta memetakan langkah langkah partai.

Dalam hak angket terhadap Menkumham, ternyata PAN tidak menyetujui usulan partai Golkar ( versi Aburizal Bakrie ), PKS dan Gerindra. Bagaimana PAN akan menentukan positioningnya dalam Koalisi Merah Putih ? apakah ada kemungkinan justru merapat ke Pemerintah

PAN berpendapat agar sepak terjang para elit politik memberikan keteduhan bagi masyarakat dan tidak menjadi bagian dari kegaduhan yang justru tidak dikehendaki masyarakat. Namun demikian, komitmen PAN dengan KMP tidak berubah. Sebagaimana dikatakan Ketua Umum kami, berada di luar pemerintahan juga sangat terhormat.

Anda dikenal sebagai putra mantan Dirut Garuda Indonesia jaman orde baru, M. Soeparno. Bagaimana anda menyikapi suara suara kritis yang mengatakan anda terlibat dalam praktek KKN semasa ayah anda memimpin Garuda ?

Semasa almarhum ayah saya memimpin Garuda dari tahun 1988 – 1992, saya berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (s/d tahun 1989) dan kemudian memulai karir sebagai praktisi perbankan di Hong Kong dari tahun 1989 – 1993. Dalam hal ini saya tidak memahami adanya suara sumbang tentang keterlibatan saya dalam praktek KKN, mengingat saya masih duduk di bangku kuliah dan kemudian pindah ke luar negeri untuk bekerja, ketika almarhum ayah saya memimpin Garuda

Bagaimana anda memandang budaya politik di Indonesia ? Sudah bukan rahasia umum bahwa setoran uang dari kader dibawah terhadap elite parpol akan menentukan posisi mereka dalam penyusunan calon kepala daerah atau calon legislative

Budaya politik yang mengandalkan kekuatan materi untuk memenangkan jabatan baik legislative maupun eksekutif, tentu tidak mendidik dan mendewasakan masyarakat dalam berpolitik. Proses demokrasi di Indonesia memerlukan teladan-teladan politik, yang dengan keringat dan kerja keras dapat mencapai cita-citanya. Dalam hal ini saya katakan bahwa Indonesia membuthkan lebih banyak “Rismaharini” dan “Ridwan Kamil” lainnya, agar para politisi malu memberikan uang kepada calon konstituennya dan masyarakatpun secara sadar menolak pemberian untuk “membeli” hak pilihnya.

Setelah sekian lama sebagai professional dalam korporasi besar, apakah anda mampu menceburkan diri dalam dunia politik ? Apa ada tips dan pedoman yang anda pegang ?

Saya memandang “hijrah” saya dari sektor korporasi ke politik sebagai bagian yang berkesinambungan, di mana saya menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang saya peroleh selama berkiprah di sector riil ke dalam manajemen partai. Prinsip dan pedoman yang saya pegang relative sederhana, yakni: “work hard, work smart, work with your heart”

Apakah anda punya pemikiran bahwa posisi Sekjen ini bisa sebagai batu loncatan menuju eksekutif di Pemerintahan, misalnya Menteri ?

Saat ini saya mengemban amanah sebagai Sekjen partai di mana tugas saya adalah menerapkan system dan landasan yang kuat untuk menjadikan PAN sebagai partai modern. Pekerjaan ini cukup berat dan menantang, sehingga seluruh pikiran dan tenaga saya saat ini difokuskan untuk melaksanakan penugasan yang diberikan kepada saya. Selebihnya saya tidak memikirkan hal-hal di luar kerja besar yang ada di hadapan saya saat ini.

  1. […] Wawancara lengkap di Beritakabar, Senin (30/3/2015): “Wawancara khusus dengan Sekjen PAN – Eddy Soeparno” […]

    Reply

Leave a Reply to Eddy Soeparno Jadi Kader PAN Sejak 2002 | Eddy Soeparno Cancel Reply

Your email address will not be published.