Foto Selfie Pamela Safitri Topless di Instagram Menuai Kecaman

Screenshot_2015-04-10-15-45-04

Akun instagram salah satu anggota Duo Srigala, Pamela Safitri, menuai kecaman netizen gara-gara ada tiga foto selfie sambil menampakkan payudaranya. Tetapi foto tersebut tak bertahan lama, segera dihapus di instagramnya. Asumsi yang berkembang di masyarakat adalah foto pamer payudara tersebut disengaja untuk strategi meraih popularitas. Ada juga yang berpendapat kemungkinan akun instagramnya dihack dan file foto pribadinya sengaja dishare. Apapun alasannya, yang jelas Pamela mendapat komentar yang sangat pedas dari para netizen, rata-rata mengolok-olok fisiknya. Ada yang bilang kalau Pamela tidak cantik sama sekali dan bertampang ndeso, malah ada yang bilang muka pembantu modal ukuran payudara aja. Selain itu banyak yang menghina bentuk payudaranya.

Mencermati reaksi netizen, ada fenomena menarik di balik kejadian ini. Hal ini menguatkan bahwa definisi cantik sangat dibentuk oleh media dan kiblat kecantikan yang dianut masyarakat Indonesia adalah mengacu ke penampilan fisik ras Kaukasian atau Mongoloid, ras Melayu tidak diperhitungkan. Wajah khas Melayu malah dibilang ndeso, kampungan, tampang pembantu dan sebagainya, label yang merendahkan dan mencerminkan inferioritas. Bisa jadi ini adalah hasil gempuran media yang menayangkan wajah kebule-bulean dengan hidung mancung, kulit putih, langsing, dst. Tidak usah yang berbikini, foto atau ilustrasi muslimah cantik berhijab di berbagai cover buku pun menampilkan ciri-ciri Kaukasian, bukan Melayu.
Selain itu dengan banyaknya komentar pedas tentang payudara Pamela juga menunjukkan bahwa masyarakat masih belum menerima keberagaman fisik. Definisi cantik yang sudah disepakati masyarakat telah menjadi semacam norma yang kalau dalam statistika berwujud kurve normal alias mayoritas. Wajah-wajah cantik dan tubuh seksi yang ditampilkan media cenderung seragam, sehingga kalau ada yang tampil berbeda dianggap tidak masuk kriteria cantik. Tidak hanya media mainstream, industri pornografi juga berperan dalam membentuk anggapan ini.
Hal ini telah lama menjadi sumber keprihatinan psikolog, feminis, dan mereka yang peduli. Penyeragaman wujud cantik telah membuat banyak remaja perempuan hingga dewasa, bahkan anak-anak, menjadi tidak percaya diri dengan kondisi fisik mereka. Insecure mengenai fisik ini bisa berwujud macam-macam, dari rendahnya kepercayaan diri karena merasa tidak menarik, merasa abnormal karena tidak sesuai dengan yang tampak di media, hingga mengalami body image disorder. Tak heran berbagai kosmetik pemutih kulit dan jasa pelurusan rambut laris manis. Bagi yang berduit, klinik-klinik mahal dan tajamnya pisau operasi dianggap sebagai jawaban atas masalah ketidakpercayaan diri tersebut.
Seharusnya Pamela tidak usah dihina fisiknya. Masyarakat harus bisa menerima bahwa kecantikan sesungguhnya beragam. Bermuka Melayu tidak lantas lebih rendah daripada yang berwajah Indo. Masyarakat Indonesia harus sadar bahwa sesungguhnya bentuk fisik termasuk bentuk payudara itu sangat bervariasi, tidak mungkin sama. Semuanya menarik dan indah, tidak ada yang menjijikkan. Kalau masyarakat Indonesia belum bisa menerima keberagaman, bagaimana kita bisa menciptakan generasi yang percaya diri dan tidak berorientasi/tidak terobsesi fisik. Kita bisa mempunyai generasi (perempuan) yang berdaya, lepas dari obsesi penampilan dan lebih mengejar karya jika masyarakatnya sendiri sudah dewasa. Jika masyarakatnya sendiri masih senang mengomentari fisik seseorang, jangan kaget jika kedepan makin banyak yang terobsesi penampilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.