Ekskavasi sejarah di Pabrik Film Negara

PFN2Perum Produksi Film Negara kini mati suri. Dilupakan. Lembaga ini dulu ”dimanfaatkan” rezim Orde Baru untuk melegitimasi kekuasaan. Ribuan arsip film, benda sejarah yang tak ternilai harganya, hancur. Kaum muda mengekskavasi arsip film, mengundang publik untuk peduli pada nasib sejarah.

Sepetak ”galian” tanah coklat itu menyangatkan kemuraman lantai bawah bangunan bekas laboratorium film yang lusuh. ”Galian” tiga tingkat itu seperti kerja rapi-jali sebuah tim ekskavasi benda purbakala jempolan.

Sejumlah ”temuan” masih terserak di sana, semua menjejalkan tragisnya riwayat Perum Produksi Film Negara. ”Jasad” dalam galian ekskavasi itu adalah wadah dan reel film yang kusam, untaian film seluloid yang bersulur-sulur, juga tengkorak manusia yang tak lagi utuh. Di dinding yang putih kusam, tersaji sebuah film dokumenter ekskavasi arkeologi.

Luthfan Nur Rochman, ”sang penggali”, menjuluki instalasi galian selebar 200 x 200 sentimeter itu ”Excavating Memoirs”. Galian itu menjadi salah satu instalasi dalam pameran ”Mengalami Kemanusiaan” yang digelar Lab Laba-laba di Laboratorium Film Perum Produksi Film Negara (PFN) di Jakarta yang digelar tiap akhir pekan, mulai 4-26 April.

Luthfan yang juga mahasiswa arkeologi Universitas Indonesia tengah mengorek ”jasad” lain, yaitu ingatan akan masa lalu. ”Ekskavasi arkeologis dilakukan untuk menyelamatkan benda masa lalu—untuk belajar sejarah kebudayaan, bagaimana kebudayaan berproses, dan bagaimana perilaku manusia. Bagi saya, itulah Lab Laba-laba dan pameran ini,” kata Luthfan.

Hampir pasti, generasi yang lahir sebelum 1990 tahu danpernah menonton film-film,seperti film boneka Si Unyil, Serangan Fajar, Enam Jam di Jogja, ataupun Janur Kuning. Semua ”tontonan wajib anak sekolah” semasa Orde Baru itu menunjukkan besarnya peran PFN sebagai ”pabrik narasi” pemerintah atas tafsir sejarah Indonesia.

Namun, yang paling dikenal tentu saja film Pengkhianatan G30S/PKI yang begitu memuja Presiden Soeharto, sang penguasa Orde Baru. Setiap 30 September, sejak 1984 sampai 1997, setiap televisi di Indonesia wajib menyiarkan film besutan sutradara Arifin C Noer itu. Begitulah tafsir sejarah penguasa Orde Baru dimassalkan lewat film produksi PFN.

Dalam buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 (2013), Wijaya Herlambang menulis film Pengkhianatan G30S/PKI menjadi medium propaganda yang memengaruhi cara masyarakat melihat peran kontras komunis dan militer. ”Kepala PPFN Jenderal G Dwipayana juga juru bicara kepresidenan dan asisten pribadi Soeharto untuk urusan hubungan masyarakat,” tulis Wijaya. PFN pada masa Orde Baru sangat berdaya dan punya kuasa.

Direktur Utama PFN Shelvy Arifin mengurai, kedigdayaan PFN sebagai pembuat film negara mulai surut pada 1996, ketika negara menghentikan kucuran APBN bagi operasional PFN. PFN akhirnya mati suri ketika Presiden Abdurrahman Wahid membubarkan Departemen Penerangan pada 1999.

”Saat saya masuk tahun 2013, kerugian keuangannya hingga 90 persen dari modal,” kata Shelvy yang enggan merinci nominal kerugian tersebut.

Ketika sineas Edwin menyinggahi kompleks PFN pada November 2013, ia menemukan kompleks PFN yang suram, dengan sejumlah studio film yang disewakan untuk bermain bulu tangkis dan skateboard. Dari urusan mencari pinjaman splicer, alat penyambung film seluloid ukuran 16 milimeter, Edwin berkeliling kompleks PFN, mendengar cerita sebuah laboratorium film canggih tapi uzur yang ditemukannya terkunci.

”Saya beruntung, pegawai PFN membukakan pintunya,” kenang Edwin. Edwin memasuki lorong bekas laboratorium yang gelap tanpa listrik, menyeberangi lantai yang basah. Di sejumlah ruangan, sineas jebolan Institut Kesenian Jakarta itu menemukan berbagai alat pengolah film canggih yang tak berfungsi, gara-gara motor dan kabel-kabelnya amblas dicuri. Dari bau asam di pintu sebuah gudang, saya tahu pasti ada film yang hancur. Begitu pintu gudang itu dibuka, saya menemukan ribuan reel film tersimpan di ruang penyimpanan tanpa pendingin ruangan, selama belasan tahun. Pegawai PFN saja tidak tahu kalau gudang itu menyimpan ribuan reel film. Gawatnya, reel film di gudang itu adalah film negatif, master film langsung dari kamera pembuat film. Itu berbeda dibandingkan dengan arsip film yang biasa disimpan di Arsip Nasional RI, yaitu positif film yang siap diputar,” kata Edwin.

Edwin membagi cerita itu kepada sesama pekerja film dan lahirlah gagasan untuk membuat aktivitas di kompleks PFN. Pada Maret 2014, mulailah Komunitas Lab Laba-laba membuat lokakarya film seluloid di kompleks PFN. Beragam lokakarya film seluloid terus mereka buat menambah gaung Lab Laba-laba dan nasib PFN.

Dari beragam lokakarya itulah terekat 12 seniman dan mahasiswa yang bersama-sama membangun pameran ”Mengalami Kemanusiaan”. Mereka—Edwin, Tumpal Tampubolon, Anggun Priambodo, Dyantini Adeline, Yovista Ahtajida, Rizki Lazuardi, Fransiskus Adi Pramono, Ruddy Hatumena, Luthfan Nur Rochman, Ari Dina Krestiawan, Anton Ismael, dan MG Pringgotono—bertemu satu sama lain, disatukan oleh kepedulian atas nasib arsip PFN.

Semua lokakarya seluloid yang digelar Lab Laba-laba akhirnya menjadi aktivitas belajar “artefak” di laboratorium PFN yang renta dan hancur. Para aktivis Komunitas Lab Laba-laba yang tidak pernah mengalami masa membuat film dengan seluloid itu terpesona, seperti mengalami sebuah legenda ribetnya membikin film pada masa lalu.

Di sanalah mereka berkenalan dengan splicer, proyektor, contact printer, optical sound recorder, kamar gelap, optical printer, oxberry animation system. Pameran 12 orang muda ini (kebanyakan baru berkuliah setelah Orde Baru tumbang pada 1998) juga menghadirkan nilai takbenda dari arsip PFN.

Ruddy Hatumena, misalnya, berbagi keterpesonaannya terhadap kepiawaian para sineas PFN membuat film animasi.

”Ironisnya, hal itu saya ketahui karena ada pegawai PFN membakar dokumen PFN. Kertas yang dibakar berisi gambar sebuah karakter animasi. Ketika kami lacak, kertas yang dibakar itu adalah tokoh kancil dalam film animasi produksi PFN, Si Kancil,” kata Ruddy. Ia akhirnya ”merekonstruksi” animasi Si Kancil berdasarkan dokumen yang dibakar itu dalam karya Jejak Si Kancil dan Api Suci.

eksvakasiFransiskus Adi Pramono mengolah 64 slide film positif tentang kampanye Pemilihan Umum 1982 menjadi film Pseudo Pesta Demokrasi. Filmnya menyuguhkan antusiasme pemilih masa itu berkampanye, yang oleh Fransiskus diimbuhi coretan warna hijau, kuning, dan merah—merepresentasi tiga peserta Pemilihan Umum 1982. Ia memproyeksikan film itu ke layar berlatar tembok yang memajang foto Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Adam Malik.

”Saya baru berkuliah tahun 2006, hanya mengenal kepalsuan pemilihan umum Orde Baru dari buku. Banyak teman saya bahkan tidak percaya Tragedi Mei 1998 pernah terjadi. Di PFN, saya menemukan bukti sejarah itu dan bukti bagaimana pentingnya film bagi Orde Baru. Namun, kita abai, tidak belajar dari sejarah. Lalu bagaimana Indonesia akan terhindar dari kesalahan sejarah yang sama?” tanya Fransiskus.

Pameran ”Mengalami Kemanusiaan” menyeret banyak ”orang baru” untuk menjejakkan kaki di Laboratorium PFN. Mahasiswa seperti Nindya (21) mengalami pengalaman berbeda berinteraksi dengan film, medium budaya populer yang paling ampuh ”mencuci otak massa”.

”Saya baru tahu kalau pembuatan film zaman dulu itu begitu susah. Sayang arsip-arsip film itu berantakan dan tidak ditata,” kata Nindya.

Orang-orang ”baru” seperti Nindya membuat Shelvy yakin PFN bakal bangkit. Meski lahan PFN kini diincar banyak investor hotel atau supermarket, Shelvy berkomitmen merevitalisasi fungsi PFN agar kembali mampu menopang produksi film nasional.

Gedung usang adalah benda berwujud, yang tentu saja bernilai tinggi. Namun, nilai takbenda dari arsip-arsip yang tengah meluruh di dalam kompleks PFN jauh lebih bernilai dari gedung-gedung itu. Akankah mereka selamat?

ARYO WISANGGENI/MOHAMMAD HILMI FAIQ – Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published.