Robohnya Sasana tinju kami

Bulungan TempoSasana tinju ternama di Jakarta roboh satu demi satu seiring dengan redupnya dunia olahraga bela diri itu di Tanah Air. Sebagian petinjunya yang semula hidup dari kejuaraan pindah haluan. Ada yang menjadi tenaga keamanan, instruktur di pusat kebugaran, hingga penagih utang.

Di sudut Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, pekan lalu, dua petinju asal Papua, Marten Kisamlu dan Melianus Mirin, berlatih keras. Mereka diawasi pelatih Misyanto, petinju era 1980-an yang dijuluki “Little Holmes”. “Siaaaap. box,” teriak Misyanto yang biasa dipanggil Pak Om seraya mengamati jam di telepon selulernya.

Marten dan Melianus bereaksi. Mereka memukul angin ratusan kali hingga Pak Om berteriak, “Stop!” Kedua petinju berhenti, mengambil napas, dan mengelap keringat yang bercucuran di tubuh mereka. Beberapa menit kemudian, latihan serupa diulang belasan kali.

“Mereka akan diterjunkan di turnamen tinju amatir di Taman Mini dan Jayapura,” ujar Martin, laki-laki yang menitipkan Marten dan Melianus untuk ditangani Om.

Sore itu, Om juga melatih Jason Butar Butar yang akan diterjunkan di sebuah turnamen profesional di Thailand. Latihan Jason lebih keras lagi. Setelah skipping setengah jam tanpa henti, ia berlatih tinju di atas ring bersama Om. “Pukul lebih keras!” teriak Om. Sambil melenguh, Jason memukul pad di tangan Om dengan kombinasi jab, upper cut, dan hook sekeras mungkin.

Pemandangan seperti itu hampir setiap sore terlihat di Sasana Tinju Bulungan. Sasana itu menaungi 6 petinju amatir dan 8 profesional. Ada juga sejumlah karyawan, mahasiswa, dan pelajar yang berlatih tinju atas nama hobi dan kesehatan.

Bulungan adalah satu dari segelintir sasana tua di Jakarta yang masih bertahan. Sasana lain yang juga bertahan adalah Amfibi. Sisanya satu per satu mati ditelan waktu. Salah satunya adalah Benteng AMI-ASMI yang didirikan pada 1977 oleh Benny Tengker. Sasana legendaris yang melahirkan sejumlah petinju ternama itu mati delapan tahun silam.

“Aku pamit ke Pak Benny untuk melatih di Sasana Amfibi Marinir, awal Maret 2007, karena di Benteng AMI-ASMI sudah tidak ada petinjunya lagi,” kata Husni, salah satu pelatih, mengungkapkan akhir riwayat Sasana Benteng AMI-ASMI.

Sasana lama lainnya, Garuda Jaya, yang didirikan Rio Tambunan pada 1970-an, mati tahun 2004 atau 2005. “Garuda Jaya mati setelah ditinggal pergi almarhum Rio Tambunan dan beberapa penerusnya,” ujar Syarifuddin Lado, eks petinju nasional asal Garuda Jaya, yang kini menjadi penata tanding tinju profesional.

Sasana Sarinah bahkan mengakhiri kehidupannya jauh lebih cepat daripada Garuda Jaya dan Benteng. Sasana itu pernah menjadi tempat berlatih Frans Soplanit, peraih perak Asian Games Jakarta 1962, Ferry Moniaga, petinju Indonesia pertama yang masuk delapan besar Olimpiade, yakni Olimpiade Muenchen 1972, juara tinju nasional Frans van Bronkhorst, dan Said Fidal, mantan pelatih Ellyas Pical.
“Seingat saya, Sasana Sarinah tidak ada aktivitasnya sejak 1994,” kata Ucok yang kini juga melatih di Amfibi Marinir.

Lonceng kematian sasana-sasana tinju besar itu berdentang seiring dengan surutnya kejuaraan tinju nasional, amatir, dan profesional. Dulu, pada era 1970-an dan 1980-an, kejuaraan tinju tingkat nasional jumlahnya belasan per tahun. Kejuaraan-kejuaraan tersebut biasanya disokong mulai dari Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina), wali kota, gubernur, kepala polda, hingga panglima kodam.

Kejuaraan dibuat dalam empat kategori, yaitu untuk pemula yang baru naik ring dan belum pernah menang, petinju muda yang sudah menang satu sampai enam kali, petinju madya yang sudah menang tujuh hingga 10 kali, serta kategori utama untuk petinju yang telah menang lebih dari 10 kali.

Kejuaraan yang paling dikenal era itu adalah kejuaraan bulanan tinju atau Monthly Boxing Championship yang diinisiasi almarhum Boy Bolang. Kejuaraan yang digelar di Jakarta setiap tiga bulan sekali itu (meski namanya bulanan) menarik petinju-petinju terbaik dari sejumlah sasana di seluruh Indonesia. Dari sana lahirlah petinju hebat seperti Ellyas Pical, Thomas Americo, Nico Thomas, dan Little Holmes. “Dengan banyaknya kejuaraan, petinju kita siap bertarung kapan pun,” kata Syamsul Anwar, juara nasional yang juga pernah menjadi petinju, pelatih, dan pengurus di Sasana Benteng AMI-ASMI.

Si Om “Little Holmes” menambahkan, persaingan antarpetinju sangat ketat pada era nostalgia itu. “Petinjunya bagus- bagus karena dipersiapkan matang dan berjenjang. Kalau bisa juara, kita benar-benar jadi juara sejati,” ujar Om yang pernah menjadi juara kelas bulu yunior WBC Interkontinental 1987.

Sekarang, lanjut Om, turnamen tinju yang rutin cuma di TVRI. Itu pun kualitasnya turun dari tahun ke tahun. “Orang belum bisa bertinju dibiarkan tampil. Akhirnya, orang malas menonton tinju. Sponsor juga lari,” ujar Om yang terjun ke tinju amatir pada 1984 sebelum menjadi profesional.

Surutnya turnamen tinju di Tanah Air membuat banyak petinju-terutama yang profesional-kehilangan panggung dan uang. “Masak latihan terus tanpa bertanding. Terus, dapat uang dari mana?” gugat Om.

Kalaupun mereka bisa naik ring, bayarannya tidak seberapa. Petinju profesional yang bertarung di pertandingan bertajuk kejuaraan di TVRI, ujar Om, mendapat bayaran rata-rata Rp 3 juta. Untuk pertarungan nonkejuaraan, petinju dibayar ratusan ribu rupiah, kadang harus sampai berdarah-darah. Nyaris tidak ada lagi petinju yang dibayar mahal seperti masa Ellyas Pical atau Chris John.

Karena penghasilan minim, satu per satu petinju pergi meninggalkan sasana. Sebagian dari mereka mencari nafkah di dunia yang dekat dengan premanisme, seperti menjaga kelab malam, tanah sengketa, atau jadi penagih utang. “Namun, mereka bukan premannya,” kata Syamsul.

Ucok Sitompul (52), mantan petinju dari Sasana Sarinah yang kini melatih tinju di Pelatda DKI Jakarta, menambahkan, petinju dan mantan petinju yang terjun ke jasa pengamanan di Jakarta cukup banyak. Sebagian bertugas di kawasan hiburan malam Mangga Besar, Jakarta Barat.

Salah seorang yang nyambi sebagai petugas keamanan adalah Johan Wahyudi. Ia mengaku bekerja sebagai penjaga kelab malam di kawasan Jalan Jenderal Sudirman setiap akhir pekan dengan bayaran Rp 150.000 per malam. “Kadang diminta menjadi pengawal orang kaya yang mau dugem. Bayarannya bisa Rp 300.000,” ujar Johan yang bernaung di Bulungan.

Di luar itu, ia menambah penghasilan dengan mengajarkan thai boxing di kantor atau apartemen. Bayarannya sekitar Rp 80.000 per pertemuan. “Lumayan, hasilnya untuk hidup sebulan,” ujar Johan yang kini beralih menekuni thai boxing.

Om menuturkan, petinju yang bertahan di Bulungan dia kirim ke beberapa kejuaraan tinju di Thailand dan Jepang. “Karena di sini susah cari kejuaraan, ya, saya kirim saja mereka ke luar negeri,” katanya.

Bulan lalu, Om mengirim Michael (26) untuk bertarung di sebuah kejuaraan di Jepang. Michael mendapat bayaran 1.000 dollar AS atau sekitar Rp 13 juta. “Uangnya saya pakai untuk membuat album (musik) saya,” ujar Michael yang berencana gantung sarung tinju dan beralih menjadi penyanyi. “Kalau bertinju terus, bak-buk bak-buk sampai muka bonyok, tetap enggak ada duitnya,” ujarnya.

Om sebenarnya ingin para petinjunya tetap bertahan menjadi petinju agar Sasana Bulungan dan dunia tinju Indonesia tetap hidup, bukan menjadi sejarah. “Tapi, saya enggak bisa memaksa karena saya tidak bisa menjamin kehidupan mereka,” ujarnya.

BUDI SUWARNA DAN KORANO NICOLASH LMS – Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published.