Perempuan-perempuan Ini Menyelamatkan Hewan-hewan Terlantar dan Menginspirasi Karena Tindakannya

PhotoGrid_1429597510230

Menjadi perempuan di jaman dulu dan era social media mempunyai tantangannya masing-masing. Kadangkala tantangannya hampir sama, situasinya saja yang berubah. Kalau dulu perempuan semacam dikerdilkan perannya, hanya mengurus domestik rumah tangga, sulit berkiprah di luar, sekarang pun masih ada harapan semacam itu. Bedanya, dengan social media maka masyarakat semakin terbuka melihat kiprah perempuan di luar rumah. Efek negatifnya mungkin adalah masyarakat jadi mengharapkan perempuan menjadi sosok sempurna, yang berkiprah di luar tetapi tetap mengurus domestik karena menurut mereka disitulah letak sejatinya perempuan.

Diluar pro kontra peran dan emansipasi perempuan, ada tiga sosok perempuan yang berkiprah aktif dalam kegiatan animal lover dan animal rescue. Di sela kesibukannya sebagai istri, ibu, dan individu mereka mewakili makhluk yang tak mampu bersuara. Perjuangan mereka cukup berat, karena menuntut pengorbanan waktu, materi, dan seringkali perasaan menghadapi komentar masyarakat. Berikut adalah profilnya:

1. Fanny Wiriaatmadja
Aktif di kegiatan rescue dan sempat mendirikan organisasi Animal Defender dan Garda Satwa, ibu dari Jibran (2 tahun) ini mengisahkan keterlibatannya dalam animal lover. Awalnya dari perasaan kasihan tiap melihat stray animal lalu 2009 memutuskan untuk mendirikan organisasi yang mempertemukan orang-orang dengan passion serupa dan aktivitasnya lebih terencana. “Aku sadar banget kalau satwa itu bukan ‘cuma’ binatang..tapi penopang hidup kita di dunia. Aku menolong satwa buat menolong manusia. Satwa yang sejahtera akan membuat hidup manusia lebih sejahtera,” demikian alasannya dan sejak saat itu ia aktif membangkitkan awareness sekitar tentang kesejahteraan hewan, kesehatan dan edukasi. 
Banyak tantangan yang ditemui, baik di lapangan maupun non lapangan. Mulai dari negosiasi alot dengan pemilik satwa yang menyiksa peliharaannya atau saat hendak menyelamatkan anjing yang hendak dikonsumsi, hingga cibiran sinis sekitar yang menyuruhnya jaga anak saja daripada urus binatang. Banyak pula yang menyangsikan dan menghakimi cara Fanny mengelola keluarga. Untuk membagi waktu antara keluarga dan passionnya, Fanny harus bangun pagi buta untuk mengurus anjing-anjing dan kucing-kucingnya dan rumah. Selain itu Fanny bersyukur di sela kesibukannya ia masih bisa memberikan ASI kepada putranya hingga 2 tahun.

Screenshot_2015-04-21-13-32-26

2. Sandy Darmowinoto 
Meowmy Dung-Dung, demikian para cat lover memanggilnya. Ia memang dikenal sejak Dung-Dung kucing yang ia adopsi dari jalanan, menjadi celebrity cat di social media. Sejak kecil Sandy memang pecinta binatang. Setelah menikah, kecintaannya pada binatang tidak luntur dan pertemuannya dengan Dung-Dung membuka jalan baginya untuk aktif dalam kampanye membangkitkan awareness orang-orang terhadap stray animal.
Sebagai celebrity cat, Dung-Dung mempunyai banyak fans. Facebook page-nya sendiri ada 1900an like dan aktif. Setiap kali posting, yang ngelike diatas 100 dan puluhan komentar. Popularitas Dung-Dung dimanfaatkan untuk menyuarakan pentingnya steril, kesejahteraan stray animal dan adopsi daripada membeli di petshop. 
Sandy dalam kiprahnya sebagai meowmy Dung-Dung tak lepas dari cibiran orang. Tetapi ia memilih untuk tidak berargumen dengan mereka, lebih baik fokus kepada hal-hal yang ia kerjakan. Kini anggota keluarganya bertambah jadi 4 kucing, semua diadopsi dari jalanan, mereka adalah Dung-Dung, Zsa-Zsa, Merry dan Ziggy. 

3. Caesara Paramita Aprilia
Ara, demikian panggilannya, sangat aktif dalam kegiatan animal rescue. Sekarang ia memilih untuk bergerak sendiri setelah sebelumnya sempat aktif di organisasi penyelamat binatang sebagai volunter pada tahun 2010-2013. Sebagai volunter tentu banyak yang ia korbankan, seperti waktu, materi. Ia cukup total dalam berkomitmen terhadap binatang. Tak jarang ia merelakan weekendnya untuk merescue binatang yang disiksa, ketika orang lain memilih bersenang-senang di mall. 
Setelah menikah, ia agak mengurangi waktunya untuk rescue animal. Prioritasnya adalah terhadap binatang-binatang yang ia melihat langsung butuh bantuan, ia langsung bertindak. Sedangkan jika ada laporan masuk, ia meminta pelapor untuk ikut aktif juga merescue, karena menurut pengalamannya, para pelapor tersebut hanya sekadar memberi informasi tapi yang bergerak dari awal hingga fostering semua dilakukan  Ara dan teman-temannya. Pelapor ini malah tidak melakukan apa-apa, padahal yang melihat langsung adalah mereka. 
Walau demikian, suami mendukung penuh passionnya. Kendala yang Ara temui adalah sulitnya menemukan adopter bagi hewan yang ia rescue. Kebanyakan masyarakat masih asing dengan adopsi dari shelter.

Perempuan-perempuan berani ini telah menginspirasi kita untuk total dalam berkomitmen. Ketika mereka mengklaim sebagai animal lover, mereka sungguh-sungguh walk the talk walaupun itu membutuhkan pengorbanan yang tak sedikit. Dukungan keluarga sangat membantu mereka untuk tetap tegar menghadapi berbagai kendala dan cibiran masyarakat.

Screenshot_2015-04-21-13-31-28

  1. Saya pencinta binatang.binatang apapun.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.