Dari Panca Lima ke Gedung Merdeka

AliPerdana Menteri Ali Sastroamidjojo berperan besar melobi negara Asia dan Afrika hadir dalam konferensi. Lincah memanfaatkan kesempatan.

Ide membuat Konferensi Asia-Afrika datang ketika Ali Sastroamidjojo menerima surat dari Perdana Menteri Sri Lanka john Kotelawala pada awal 1954. Kotelawala mengajak Perdana Menteri Ali dan perdana menteri tiga negara lain bertemu untuk menurunkan ketegangan di Indocina, sekarang Vietnam. Kotelawala juga menyurati Perdana Menteri India, Pakistan, dan Birma kini Myanmar. Waktu itu dunia tegang. Selain melakukan invasi, Amerika Serikat berkonflik dengan Uni Soviet, yang disebut “Perang Dingin”. Kotelawala mengusulkan tempat pertemuan di Kolombo.

Ali menyanggupi datang dengan tujuan menggagas kemungkinan pertemuan kepala negara yang lebih besar, mengingat semua negara terpecah mendukung Amerika atau Soviet, dalam poros kapitalisme dan komunisme. “Konferensi Kolombo bisa digunakan untuk itu,” kata Ali di depan sidang Dewan Rakyat, setelah konferensi, pada 25 Agustus 1955, seperti tertera dalam bukunya, Tonggak-tonggak di Perjalananku.

Maka surat kesanggupan Ali kepada Kotelawala diiringi dua syarat yang akan memudahkannya terbang ke Kolombo. Pertama, konferensi tak membicarakan sengketa di antara para peserta, dan kedua, ia diberi kesempatan mengusulkan konferensi serupa dengan jangkauan peserta yang lebih luas.

Kotelawala setuju. Ali lalu mengajukan rencananya dalam sidang kabinet, yang diterima dengan persetujuan. Ia meminta Menteri Luar Negeri Sunario merumuskan bahan yang akan dibawa ke Kolombo. Sunario pun mengumpulkan
duta besar Indonesia yang bertugas di negara-negara Asia dan Afrika pada 9-22 Maret 1954 di ]akarta.

Rumusan yang akan diusulkan ke Kolombo sudah rapi. Ali menyiapkan hal-hal teknis konferensi pemimpin Asia dan Afrika itu secara cermat. Untuk memban­ tunya, ia membawa empat delegasi. Mereka adalah Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo sebagai penasihat, Direktur Biro Perancangan Nasional Ir Djuanda, Kuasa Usaha Ad Interim Indonesia di Kolombo J.D. de Fretes, dan M. Maramis. Mereka berangkat ke Kolombo pada 26 April 1954.

Di hari keberangkatan, Presiden Sukarno berpesan secara khusus kepada Ali agar memperjuangkan secara sungguh-sungguh ide membuat konferensi yang lebih besar daripada pertemuan Kolombo. Sukarno punya rencana Iebih besar: tak hanya menurunkan ketegangan, tapi juga menyingkirkan setiap bentuk penjajahan sebuah negara atas negara lain, seperti tertuang dalam konstitusi Indonesia yang disusunnya.

Roeslan Abdulgani, Sekretaris jenderal Departemen Luar Negeri, mengkonfirmasi pesan dalam percakapan Sukarno-Ali dalam bukunya, The Bandung Connection. Menurut Roeslan, Sukarno sangat berambisi mewujudkan konferensi Asia dan Afrika itu. Bung Karno mengatakan, “Kalau mereka tak mau, biar kita sendiri yang menyelenggarakannya.”

Ali Sastroamidjojo benar benar melaksanakan renca­ nanya. Meski empat perdana menteri lain berfokus pada penyelesaian konflik Cina dan Amerika Serikat berebut Vietnam, Ali menekankan pentingnya sebuah pertemuan besar semua negara Asia Afrika jika ingin konflik itu berakhir. “Sebab, saya yakin bahwa soal-soal dunia tidak dihadapi oleh bangsa-bangsa Asia saja, melainkan bangsa-bangsa Afrika juga;’ kata Ali dalam bukunya.

Menurut Perdana Menteri Indonesia ke-8 ini, ide tersebut disetujui keempat perdana menteri, tapi mereka menganggapnya sulit terealisasi. Alasannya, peserta yang banyak dengan beragam kepentingan akan sulit menentukan topik konferensi. Akan susah pula memilih peserta yang diundang karena sebagian negara Asia Afrika terbelah akibat Perang Dingin.

Ali pantang mundur. Ia meyakinkan bahwa pemerintah Indonesia sendiri sanggup mengerjakan persiapan pendahuluan sebelum konferensi. “Atas saran Nehru, konferensi menyetujui untuk memberikan dukungan moril sepenuhnya kepada Indonesia,” ujar Ali.

Gagasan Ali dituangkan dalam pasal 14 komunike ter­akhir Kolombo. Bunyinya, para perdana menteri membicarakan soal baiknya mengadakan suatu konferensi negara-negara Asia-Afrika serta mendukung Indonesia menjajaki kemungkinan penyelenggaraan sidang tersebut.
Ali menafsirkan bunyi pasal ini bahwa keempat perdana menteri masih ragu Indonesia bisa menyelenggarakan konferensi intemasional. Tapi, karena mereka menghormati pengusul, Indonesia diberi ruang menjajakinya.

Seusai sidang Kolombo, Ali gencar melobi negara negara Asia Afrika, sembari terus meyakinkan Perdana Menteri lndia, Jawaharlal Nehru dan Perdana Menteri Birma (Myanmar) U Nu. Apalagi, setelah di Kolombo, ada pertemuan di Manila, Filipina, yang dihadiri deJapan negara pro-Amerika yang sangat mendukung pendudukan di Vietnam. Nehru menyurati Ali, mengingatkan lagi soal idenya membuat sebuah konferensi besar untuk menghentikan itu.

Ali menanggapinya dengan bertandang ke New Delhi. Nehru bulat mendukung Ali begitu mendengar pidatonya yang meyakinkan di depan parlemen India. Ia bahkan mengatakan konferensi gagasan Indonesia itu perlu dipercepat. Setelah bertemu dengan Ali, Nehru menemui U Nu. Keduanya setuju dengan gagasan Ali.

Setiba dijakarta, Ali bergerak cepat. Ia mengirim undangan kepada para perdana menteri peserta pertemu­an di Kolombo untuk berkunjung ke jakarta menyiap­ kan konferensi itu. Para perdana menteri yang disebut Ali “Panca Lima” itu bertemu di Bogor selama dua hari pada 28-29 September 1954.

Ali menyampaikan hasil penjajakan yang dilakukannya ke 13 negara Asia Afrika. Sebelas negara telah menyatakan setuju. Hanya Filipina dan Muang Thai, se­ karang Thailand yang menyatakan persetujuan belakangan. “Sambutan baik negara-negara tersebut membuat keempat perdana menteri semakin yakin Konferensi Asia-Afrika bisa terwujud,” kata Ali.
Sidang Panca Lima menyepakati pemerintah Indonesia sebagai pengundang konferensi serta panitia penyelenggara. Mereka membentuk pula sekretariat bersama beranggotakan duta besar keempat negara di Indonesia, dengan ketua Roeslan Abdulgani. Fungsi sekretariat ini untuk melancarkan persiapan konferensi dan mengurus administrasi.

Kesepakatan penting dari pertemuan di Bogor itu adalah kesepahaman soal waktu konferensi, yakni 18-24 April1955. Para peserta menyerahkan waktu pertemuan kepada pemerintah Indonesia. Setelah lobi kanan-kiri, Ali mendapat kepastian ada 25 kepala negara yang bersedia hadir. “Lalu saya memutuskan Bandung sebagai tempat konferensi,” katanya.

Nama resmi pertemuan itu adalah Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika. Para peserta, dalam percakapan di rapat-rapat, cukup menyebutnya Konferensi Ban­ dung. Digelar di Gedung Merdeka, jumlah resmi peserta pertemuan itu 29 negara. Kelak, pada 1961, konferensi ini mengilhami Gerakan Non-Blok karena ketegangan blok Barat dan Timur tak juga mereda.

( dikutip dari Majalah TEMPO )

Leave a Reply

Your email address will not be published.