Dari Wright Sampai Kahin

wright Konferensi antar benua kulit berwarna pertama di dunia ini menjadi panggilan jiwa dari politkus sampai penulis. Terpikat pidato Presiden Sukarno.

“ BISMILLAH, Godspeed,” ujar Presiden Sukarno, mengakhiri pidato pembukaan Konferensi Asia-Afrika. Diiringi tepuk tangan dan standing ovation. Singa podium itu turun dari mimbar. Di balkon, Richard Wright duduk bersama 376 wartawan – 163 lokal dan 213 asing lain.
Saat Sukarno berjalan meninggalkan arena persidangan, jurnalis dan penulis Amerika Serikat itu menelaah ceramah 40 menit berbahasa Inggris beraksen Jowo yang baru dia dengar. Di Bandung, 17 ribu kilometer dari tanah kelahirannya di Mississippi, untuk pertama kalinya Wright mendengarkan kolaborasi antara ras dan agama.

“Keduanya merupakan kekuatan yang paling dahsyat sekaligus irasional milik manusia,” ujar Wright, saat itu 47 tahun. ” Sukarno tidak bermaksud membangkitkan ‘iblis kembar’, tapi mencoba mengorganisasinya “
Pendapat itu ia tuliskan dalam The Colour Curtain: A Report on the Bandung Conference, yang pertama kali terbit di London pada 1956. Wright mengatakan kesadaran ras dan agama berpadu di Bandung. ” Keduanya menjadi nasionalisme yang melewati batas negara, “, kata pengarang Black Boy, salah satu buku terlaris di Amerika Serikat pada 1945 itu.

Wright merasakan betul ucapan Sukarno itu. Saat ia mengurus kartu peliputan konferensi di Departemen Penerangan, Jakarta, beberapa hari sebelumnya, petugas di balik meja memasang tampang jutek saat melayani wartawan kulit putih yang sama-sama dari Amerika. Namun, begitu tiba giliran Wright, petugas itu langsung tersenyum dan menyerahkan berkasnya, sementara si jurnalis kulit putih terus dibuat menunggu.

“Saya merasakan penderitaan yang dirasakan petugas itu. Saat kaum putih berkuasa di sini (di Indonesia), mereka menanarnkan nilai bahwa semua orang putih baik dan orang berwarna buruk. Di Konferensi Asia·Afrika ini, saya melihat kebalikannya, ” ujar Wright. ” Saat ini kami adalah ras unggulan.”

Di sela konferensi, Wright mewawancarai Adam Clayton Powell Jr. Saat itu 46 tahun. Powell adalah warga keturunan hitam pertama dari New York yang jadi anggota Kongres Amerika Serikat. Seperti pemah ditulis situs berita The Burning Spear- harian aktivis kulit hitam di Florida- untuk datang ke Bandung.
Powell mulanya membujuk Presiden Dwight Eisenhower agar resmi mengirim wakilnya.

Namun Eisenhower menolak. Akhirnya Powell berangkat bermodal sokongan dana dari sebuah penerbitan. Ia menumpang pesawat pengebom sampai Filipina. Dari Filipina, ia bergabung dengan delegasi Filipina menuju jakarta.
“Di Bandung, dia menjelaskan bahwa kakeknya adalah budak,” ucap Wright.

Bandung meninggalkan kesan mendalam bagi Wright, yang karya·karyanya masih jadi bacaan wajib di sekolah menengah atas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat. Selain Colour Curtain, ada White Man, Listen yang terbit pada 1957, yang juga bertema perjuangan ras dan anti diskriminasi.
Putrinya, Margaretha Julia Wright, datang ke Museum Asia Afrika pada 1990· an untuk menapaktilasi perjalanan sang ayah (Wright meninggal pada 1960) sekaligus menyumbang bahan tulisan dan kliping.

Duduk searea dengan Wright di balkon Gedung Merdeka adalah George McTurnan Kahin, saat itu 37 tahun, asal Amerika. Kahin adalah profesor sejarah Asia Tenggara di Cornell University, New York. Roeslan Abdulgani, sekretaris jenderal konferensi, menganggap Kahin, sebagai sahabatnya. “Dia berada di tengah·tengah kita sewaktu revolusi di Yogyakarta,” ujar Roeslan di buku Bandung Connection.

Pada 1948, Kahin berada di Yogyakarta untuk penelitian disertasinya. Setahun kemudian, Belanda menangkap dan mengusirnya. Karya ilmiahnya itu rampung pada 1951 dan dibukuka di Nationalism and Revolution in Indonesia, satu bacaan wajib akademikus Barat untuk mengenal sejarah Indonesia.
“Beliau datang kembali di Bandung dan, sebagai hasil observasinya, menulis buku The Asian-African Conference Bandung,” kata Roeslan.

Pulang dari Bandung, Kahin melanjutkan program studi Indonesia di Cornell, yang ia rintis setahun sebelumnya. Sampai meninggalnya pada 2000 pada usia 82 tahun, Kahin tidak pernah absen dalam memperjuangkan kesetaraan. Ia pernah mengademkan unjuk rasa mahasiswa kulit hitam yang memprotes kurikulum Cornell yang dituding rasis pada 1969 sampai menentang keterlibatan negaranya di Perang Vietnam.

Dia menulis The United States in Vietnam saat perang berkecamuk. Di buku itu sejalan dengan semangat Konferensi Asia Afrika bahwa urusan Asia harus diselesaikan orang Asia. Kahin mengatakan Viemam Selatan semata negara boneka yang bergantung pada Amerika Serikat. “Buku itu menjadi bacaan paling penting pada1960·an dan membuat dunia akademikus menentang Perang Vietnam,” ucap Frederick Z.Brown, pakar Asia Tenggara dari John Hopkins University,seperti ditulis New York Times.

Selain penulis semacam Richard Wright dan peneliti seperti George Kahin, tentu saja banyak wartawan asing yang datang dan kemudian membuat artikel atau buku khusus. Misalnya Arthur Conte dari Prancis. Conte kemudian menulis Bandung, tournant de Histoire.

Seorang jurnalis Cina, Zhang Yan, mengaku bulu kuduknya berdiri tatkala mendengar ucapan Sukarno. “Gedung seperti gemuruh, semua langsung bangkit, bertepuk tangan, termasuk delegasi Cina dan saya,” tulisnya dalam artikel “I Wish I Had Met Richard Wright at Bandung in 1955″.

Bahkan yang menarik, seorang wartawan “jadi·jadian” pun datang. Dalam bukunya, Wright menulisia bertemu dengan seorang Amerika, Mr jones yang berkulit cokelat, bukan wartawan. Sehari·hari ia bekerja sebagai mekanik di Los Angeles. Namun, saat mendapat kabar soal “pertemuan kulit berwarna terbesar di muka bumi”, dia seperti mendapat panggilan. Dia mengeruk seluruh tabungan, juga milik istrinya, untuk ongkos ke Bandung.
Jones juga sukses merayu sebuah surat kabar untuk memberinya surat izin liputan. “Dia merasa tempatnya bukan di Amerika Serikat, melainkan di negara negara kulit berwarna,” tulis Wright.

( dikutip dari Majalah TEMPO )

Leave a Reply

Your email address will not be published.