Klangenan Sukarno untuk tetamu agung

Fadli BadjuriSate khas Rumah Makan Madrawi menjadi salah satu menu andalan makan siang dalam Konferensi Asia-Afrika. Dua petinggi negara sempat minum air kobokan.

” Li, tamu negara mau makan-makan di Madrawi dari Gedung Merdeka, siapkan saja.” Singkat dan padat. Itulah pesan yang disampaikan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, Ketua Panitia Konferensi Asia Afrika 1955, kepada Fadli Badjuri, pemilik Rumah Makan Madrawi, Bandung.

Fadli menyanggupi tanpa banyak tanya. Tak disebutnya jumlah pasti tamu negara yang bakal datang, juga tak menjadi persoalan bagi Fadli.
Menjelang tengah hari pada 18 April 1955, berdatanganlah orang asing berjalan kaki dari ternpat konferensidi Gedung Merdeka ke RM Madrawi, yang berlokasi di ]alan Dalem Kaum, dekat Masjid Agung Bandung.

Seingat Fadli, di antara tetamu negara itu terdapat Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Birma (Myanmar) U Nu, dan Faisal bin Abdul Aziz, yang ketika itu masih menjadi putra mahkota Raja Arab Saudi.
“Total mereka yang datang sekitar 20 orang,” kata Fa­dli, 109 tahun, saat ditemui Tempo di rumahnya di Gang Simpang, Bandung, akhir Maret lalu.

Rupanya, penunjukan RM Madrawi sebagai tempat makan siang tetamu tak lepas dari keakraban antara Fadli dan Presiden Sukarno. Fadli kenai dengan Sukarno sudah sangat lama, yakni sejak 1920. Kala itu, Sukarno datang ke Bandung bersama Oemar Said Tjokroaminoto, dedengkot Sarekat Islam, yang hendak bertemu dengan sesama aktivis Sarekat Islam. “Saya Raden Sukarno, datang dari Surabaya,” kata Fadli mengingat saat Sukarno memperkenalkan diri.

Tjokro dan Sukarno pun dijamu di RM Madrawi merujuk pada nama salah satu pendirinya: Madrawi, yang mengembangkan rumah makan bersama saudaranya, yakni Badjuri, ayah Fadli. Sejak saat itulah Sukarno menjadi pelanggan tetap RM Madrawi, termasuk ketika ia menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung dan menjadi aktivis pergerakan Indonesia merdeka.

Menu klangenan atau kesukaan Sukarno dari 90 rupa masakan di restoran itu adalah soto dan sate ayam 10 tusuk, nasi sepiring, pisang, serta teh manis. Sajian favoritnya yang lain adalah gulai dan rawon sapi. Harganya waktu itu (1920-an) setalen atau 25 sen.

Untuk menyambut para tamu penting Konferensi Asia-Afrika itu, Fadli mengaku tak ada persiapan khusus. Mereka diminta memilih sendiri di antara 90-an menu yang ada di meja saji. Sajian utamanya adalah sate dan soto ayam, sate dan gulai kambing, serta gulai dan rawon sapi. Selain masakan Madura, ada menujawa Timuran. Menu lain, dari telur mata sapi, gado gado, sampai bistik, pun tersedia. Pokoknya komplet.

Selain makanan yang dipesan, seperti biasa, di meja mereka disediakan air dalam mangkuk untuk cuci tangan alias kobokan. Di luar dugaan, Nehru dan Gamal meminum air untuk kobokan itu. Kepala pelayan pun sigap bertindak agar insiden itu tak berlanjut. Ia menjelaskan bahwa air tersebut bukan untuk diminum, melainkan untuk cuci tangan. “Mereka hanya tertawa,” ujar Fadli, yang saat kejadian itu berusia 48 tahun.

Fadli melihat Gamal dan Nehru makan langsung pakai tangan kanan, sementara yang lain memakai sendok dan garpu. Salah satu yang diingatnya, Pangeran Faisal memesan gulai dan sate kambing. “Dagingnya besar-besar, segede jempol,” ujar Fadli sambil menunjukkan seruas ujung jempol tangan kanannya.

Mereka datang hampir tiap hari untuk makan siang di Madrawi selama konferensi berlangsung. Untuk makan malam, kata Fadli, ada jamuan di rumah dinas Gubernur yang disebut Gedung Pakuan, di Hotel Savoy Homann, dan di Hotel Preanger.

Tagihan makan para tamu agung itu disampaikan ke Ali Sastroamidjojo. Pembayarannya tidak setiap hari, tapi setelah keseluruhan acara selesai. ” Besarnya tagihan mencapai Rp 500,” ujar Fadli. Uang itu diputar dan dipakai kembali untuk berbelanja bahan masakan restoran.

Sebagai restoran kondang, menurut Fadli, saat itu setiap hari RM Madrawi membutuhkan 10 ekor kambing, 300 ekor ayam kampung, dan beberapa potong paha sapi. Ayam dikirim pemasok, sedangkan daging dibeli dari tempat jagal langsung milik Azhari dijalan Kalipah Apo.

Abdul Fatah, bungsu dari delapan bersaudara anak pasangan Fadli Badjuri dan Masrah, menambahkan tempat langganan lain pembelian daging, yakni dijalan Karapitrur dan terkadang di belakang terminal Kebon Kelapa. “Dagingnya bagus, kambingnya selalu muda. Sampai 1980-an masih berbelanja daging ke sana,” katanya.

Rumah makan legendaris itu akhimya tutup usaha tahun 1987. Musababnya, lahan yang mereka tempati, yang berstatus tanah wakaf Masjid Agung Bandung, diambil pengurus masjid untuk perluasan tempat ibadah. Bekas RM Madrawi sekarang menjadi teras samping masjid di sisi mulut jalan Dalem Kaum, sekaligus menjadi halaman depan bangunan pos dua lantai Satuan Polisi Pamong Praja. Letak pos itu dulu berada di belakang RM Madrawi sebelum berbatas tembok dengan masjid.

Kini Fadli hidup bersama dua anak dan keluarganya. Untuk keperluan sehari-hari, mereka berjualan nasi rames dan bakso di teras sempit rumahnya, sesempit gang pejalan kaki.

( dikutip dari Majalah TEMPO )

Leave a Reply

Your email address will not be published.