Merawat Tradisi dari Gang Kelinci

WO Barata3Seniman Wayang Orang Bharata adalah orang-orang yang keras kepala mencintai seni tradisi. Tinggal terimpit di antara gedung pencakar langit Jakarta, mereka menjalin persaudaraan. Kehangatan seni itu meluber dari atas panggung hingga ke gang-gang sempit tempat mereka bermukim.

Dua gang yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor di RT 012 RW 002, Kelurahan Sunter Agung, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menjadi rumah bagi lebih dari 200 kepala keluarga, anggota Paguyuban Wayang Orang Bharata. Awalnya, Padepokan Wayang Orang Bharata ini dibangun untuk 68 kepala keluarga pada sekitar tahun 1980-1982.

Seiring perkembangan waktu, hanya tersisa 36 dari total 68 rumah yang masih dimiliki oleh anggota Bharata, sisanya telah dijual kepada orang lain. Sebagian besar dari mereka yang menjual rumah kemudian memilih kembali ke padepokan. Karena tak lagi ada tanah yang tersisa, satu per satu mereka menempati aula yang dulunya menjadi tempat latihan wayang orang.

Aula pun disulap menjadi ruang tinggal bagi belasan keluarga. Identitas ruangan seluas sekitar 120 meter persegi itu sebagai aula tempat latihan wayang benar-benar sudah sirna. Begitu memasuki ruangan, tampaklah deretan kompor dengan tabung gas melon. Selanjutnya, tampak lorong sempit memanjang dengan aneka pembatas di sisi kanan-kirinya berupa potongan pintu, lemari, hingga kardus. Di beberapa sisi, penghuni aula membangun tangga untuk menciptakan ruangan baru di bagian atas langit-langit aula sehingga hampir menyerupai rumah dua susun dari bahan kayu-kayu bekas.

Ketua RT 012 M Yunus (46) yang juga tinggal di salah satu sudut di aula itu menunjukkan satu kamar mandi yang dipakai oleh 18 kepala keluarga yang tinggal di aula. Satu kepala keluarga minimal terdiri dari sepasang suami istri. Yunus yang sudah menjadi anggota Wayang Orang Bharata sejak 1979, misalnya, menempati petakan aula bersama lima orang anggota keluarganya.

”Sumpek. Harus berbagi napas. Kalau pulang kampung, rasanya baru lega. Tapi tetap kembali karena merasa punya tanggung jawab. Jangan sampai padepokan ini jadi gang kelinci, saking banyaknya warga,” kata Yunus.

Meski sumpek berdesak-desakan, aula tersebut sejatinya masih tampak bersih dan ditata dengan teratur. Di dinding ruangan terpampang kertas pengumuman daftar iuran listrik yang belum terbayar warga. Suara bayi yang sedang menangis berbaur dengan suara kucing yang mengeong dan percakapan antarpenghuni.

Di salah satu petakan berukuran 3 x 4 meter persegi, Rustio (20) berlatih perkusi bersama teman-temannya yang tergabung dalam grup Java Raggae. Menjadi anggota Wayang Orang Bharata sejak lahir, Rustio mencintai seni, dan hanya menyelesaikan pendidikan hingga SMP. Dulu, almarhum ayahnya adalah pelatih warok yang terkenal seantero Jakarta.

Sang ayah, Budiman, sempat mendapat jatah rumah lalu dijual sebelum kemudian keluarga ini terpaksa tinggal di aula sejak 2004. Harga tanah di lingkungan Padepokan Wayang Orang Bharata yang melambung hingga Rp 15 juta per meter persegi memang tak lagi mampu terbeli oleh anggota.

WO Barata4Dulu, sebelum aula berubah fungsi sebagai tempat tinggal, warga biasa berlatih di aula. Kini, mereka menyiasati ketiadaan ruang berlatih dengan datang lebih awal untuk latihan sebelum tampil di Gedung Wayang Orang Bharata yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengelolaannya di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Keluar dari sumpeknya aula, angin segar sejenak bisa dihirup di gang yang tak pernah sepi oleh lalu lalang orang. Jika musim banjir, gang bakal penuh dengan luapan air yang sesekali masuk hingga ke dalam rumah. Pada saat normal, anak-anak bakal berkejaran atau bermain sepeda di lorong gang. Beberapa warga memanfaatkan waktu longgar di sore hari dengan memperbaiki aksesori dan kostum wayang orang.

Pekan lalu, Daryanto Supono (59) dan Haryati (60) duduk di teras rumah sembari memperbaiki tempelan manik-manik di kostum tari. Mereka sibuk menyiapkan perlengkapan pentas wayang orang yang akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta. Bagi keluarga Supono, wayang orang memang sudah menjadi ibarat napas hidup sehari-hari.

Empat anak dan tiga cucu Supono pun terlibat dalam pertunjukan wayang orang. Selain menjadi pemain wayang orang, Supono dan keluarganya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan menyewakan kostum serta memberi jasa riasan. Seluruh dinding ruang tamu di rumah tersebut sesak oleh aneka kostum tari tradisional.

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit untuk mengitari gang yang kanan-kirinya dihuni oleh seniman wayang orang ini. Rumah Penata Gending, Kadar Sumarsono, misalnya, dengan mudah dikenali dari hiasan relief kendang yang tertempel di muka rumah. ”Kalau yang megah dua atau tiga lantai itu berarti sudah dijual ke orang lain,” tambah Yunus.

Salah satu primadona panggung Wayang Orang Bharata, Nunung (52), yang biasanya tampil sebagai Srikandi atau Banowati, tampak sibuk menyuapi cucunya. Bergabung dengan Paguyuban Wayang Orang Bharata sejak 1979, Nunung beberapa kali ke luar negeri, termasuk tampil menari di Jepang. ”Kita ikut Bharata bisa terkenal di mana-mana, jangan kita lupakan. Enggak mungkin orang luar kenal Bu Nunung kalau bukan dari Bharata,” kata Nunung.

Sesepuh Wayang Bharata, Kies Slamet (75), yang pernah memimpin paguyuban, juga memetik manisnya hidup dari Bharata. Ia bertemu dengan salah satu istrinya yang orang Jepang dalam misi kesenian ke negara sakura itu. Pada tahun 1962, Kies sempat bertemu Presiden Soekarno yang berpesan agar melestarikan seni tradisi dengan lima unsur: kesadaran, kecintaan, ketekunan, disiplin, dan rasa syukur.

Dari wayang orang pula, tawaran menjadi pemain film berdatangan. Kies sempat bermain dalam film Api di Bukit Menoreh sebelum turut membintangi 27 film lainnya, termasuk berperan sebagai Jenderal Soepardjo dalam film Pemberontakan G30S PKI. ”Saya mendapat banyak hal yang tidak bisa dirupiahkan. Kenangan yang enggak akan saya lepas. Jangan asal bisa, tapi harus benar-benar lebur dalam karakter. Saya setia pada wayang karena orang masih senang lihat saya. Kesadaran ini: orang masih membutuhkan kamu,” tambahnya.

Kesetiaan pada wayang pula yang membuat Kies tetap bertahan tinggal di Padepokan Bharata. Saat ini, delapan anak dan delapan cucunya juga turut bermain wayang orang. Padepokan tersebut mulai ditempati pada tahun 1980-an ketika mendapat tanah kosong dari seorang pengusaha. Setiap keluarga dari 68 kepala keluarga memperoleh tanah tipe 21, sebagai pimpinan Bharata, Kies memperoleh tanah pojok seluas 31 meter persegi.

Bantuan tanah itu sempat digadaikan dan uangnya dipakai untuk membangun rumah. Ketika jumlah penonton wayang orang merosot akibat serbuan hiburan murah lewat hadirnya televisi swasta, banyak anggota Wayang Orang Bharata yang kemudian menjual rumahnya mulai tahun 1985. ”Tanah ini diberikan dengan tulus, syaratnya kamu harus setia melestarikan wayang orang,” kata Kies yang kini lebih sering berperan sebagai Petruk.

Kecintaan dari generasi terdahulu itu nyatanya juga masih berkobar-kobar di hati anak-anak muda. Ditemui di teras rumahnya, Aziz (30) baru saja tampil menari di sebuah stasiun televisi swasta. Selain di Bharata, ia pun bergabung sebagai penari bersama Guruh Soekarnoputra dan Denny Malik. Sejak tahun 2000, Azis tak hanya menari sebagai prajurit di wayang orang, tetapi juga tari modern serta tari tradisional dari seluruh Tanah Air.

Beberapa kali, Azis pun turut dalam misi kebudayaan ke sejumlah negara, seperti Rusia, Malaysia, dan Hongkong. Bagi Azis dan banyak anak muda lainnya, Wayang Orang Bharata sekaligus menjadi batu loncatan untuk sukses karier di bidang seni. Glamor di panggung seni, kehidupan sehari-hari seluruh anggota Bharata ini dilingkupi kesederhanaan. Mereka merawat tradisi dari gang sempit dan sumpek seperti gang ”kelinci”.

( Mawar Kusuma – KOMPAS )

Leave a Reply

Your email address will not be published.