Wayang Orang Di Pentas Kehidupan Jakarta

WO Barata1Wayang Orang Bharata adalah potret seni tradisi yang liat bertahan dari gempuran arus modernitas Ibu Kota. Komunitas yang beranggotakan lebih dari 100 orang ini tak hanya guyub di panggung, tetapi saling mempertautkan diri selama tujuh generasi.

Jarum jam hampir mendekati pukul 20.30 pada Sabtu (11/4), para pemain Wayang Orang Bharata masih sibuk merias diri. Panggung utama di Gedung Bharata di kawasan Senen, Jakarta, itu masih kosong, kecuali beberapa sinden dan puluhan penonton yang mulai memenuhi ruangan.
Padahal, pertunjukan wayang orang di Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata tersebut terjadwal digelar setiap Sabtu pukul 20.00.

“Biasanya memang sudah mulai pertunjukannya. Tapi, tadi banyak yang telepon agar menunda pertunjukan beberapa menit karena terjebak macet. Manajemennya memang masih tradisional banget,” kata Teguh Ampiranto atau Kenthus, salah satu sutradara Wayang Orang Bharata.

Mereka sadar bahwa penonton wayang orang, ya, itu-itu saja. Kalaupun nambah hanya satu atau dua orang. Makanya, mereka bersedia menyesuaikan waktu dengan penonton setianya itu sebagai bentuk penghargaan. Penggemar wayang pun bebas makan dan minum selama pertunjukan berlangsung. Penjual sate ayam, mi, ataupun minuman botol bebas keluar-masuk belasan kali menyajikan pesanan penonton hingga tengah malam.

Lebih separuh dari total 250 kursi telah terisi ketika panggung dibuka dengan pementasan lakon Sesaji Rojosuyo. Panggung bertabur cahaya terang benderang, ketika para pandawa mulai membabat hutan untuk membangun Kerajaan Indraprasta. Pesta pertama atas berdirinya kerajaan digelar dengan doa permohonan ketenteraman kepada para dewata. Sesaji Rojosuyo ini menjadi lengkap apabila direstui oleh 100 raja tanpa paksaan.

Menikmati suguhan wayang orang tradisional yang teguh memegang pakemnya, penonton dimanjakan dengan layanan bak raja. Duduk di kursi empuk, dipersilakan bersantap makan malam di ruang teater berpendingin ruangan dan berkarpet merah. “Silakan datang, di sini penonton beroleh kenyamanan. Wayang selain tontonan, ya, tuntunan,” tambah Kenthus.

WO Barata2Para pemain tampil sepenuh hati dengan kostum didominasi warna kuning emas yang menyala tertimpa cahaya panggung. Para anak-cucu pemain Wayang Orang Bharata tidak terlampau kesulitan meresapi karakter, gerak, ataupun dialog yang harus dimainkan. Sebab, sejak bayi mereka tumbuh seiring pergelaran lakon-lakon wayang orang.

Mereka biasanya menonton ayah, ibu, bibi, atau pamannya dari samping panggung hingga larut malam. Dalam satu rumah, kakek, bapak, hingga anak bisa saja menekuni lakon yang sama seperti Cakil. “Sejak SD saya sudah hafal semua gerakan dan ucapan Cakil,” kata Chrisna Aji Rukmana (19), anak dari Dono Subekti (38).

Dono sudah belasan tahun memerankan tokoh Cakil, tokoh antagonis, teliksandi yang begitu setia kepada Rahwana. Dia pun lalu menurunkan peran itu kepada anaknya, Chrisna. Chrisna merupakan Cakil generasi ketujuh karena kakek, buyut, cicitnya memerankan Cakil dalam Wayang Orang Bharata.

Demi penonton pula, Pemimpin Paguyuban Wayang Orang Bharata Marsam Mulyoatmaja dan diperkuat beberapa sutradara, seperti Teguh Kenthus Ampiranto, H Supono, Sentot Erwin, Surip Handayani, dan Nanang Ruswandi, terus bereksperimen menghadirkan kebaruan dalam tontonan wayang. Kesegaran baru ditawarkan, antara lain, dengan memadatkan durasi pertunjukan dari enam jam menjadi tiga jam agar penonton tidak bosan, tapi mutu cerita tetap terjaga.

Dialog tak perlu terlalu panjang. Bahasa sastra tinggi seperti bahasa Kawi dan bahasa Sanskerta sengaja dikurangi supaya penonton lebih paham. Adegan pertama dalam lakon wayang orang yang biasanya dibuka dengan tari sembahan, misalnya, diganti dengan flashback atau cerita balik dalam upaya menarik penonton. “Kami tidak terlalu berpegangan, tapi tidak sama sekali lepas dari pakem,” kata Kenthus.

Dengan harga tiket Rp 60.000 untuk kelas VIP, Rp 50.000 untuk kelas satu, dan Rp 40.000 di balkon, pemasukan tidak sebanding dengan pengeluaran, bahkan jika semua kursi terisi sekalipun. Penghasilan rata-rata 150 penyokong Wayang Orang Bharata Rp 30.000-Rp 50.000 per pertunjukan.

“Sama tukang batu saja kalah. Memang enggak masuk logika. Tiga bulan terakhir, kursi enggak pernah penuh karena banyak penonton takut dibegal pulang tengah malam,” ujar Kenthus.

Karena jumlah penghasilan yang sedikit, hanya anggota yang benar-benar cinta pada seni tradisi lah yang mampu bertahan.

Marsam Mulyoatmaja yang kini lebih banyak berperan sebagai Bagong, misalnya, menjadi contoh kesetiaan yang total. Semua peran dalam wayang orang, mulai dari prajurit, raksasa, raja, hingga pendeta, pernah dilakoninya. Dalam pertunjukan wayang orang, pemeran punakawan haruslah para pemain senior yang sudah mumpuni.

Kenal wayang orang sejak kelas IV SD, Marsam sempat bekerja sebagai nelayan ke wilayah laut Singapura. “Seminggu saja enggak dengar gamelan, rasanya enggak kuat. Begitu turun kapal lalu dengar gamelan dari radio, saya nangis. Dasarnya memang sudah jiwanya. Saya enggak bisa meninggalkan seni. Seandainya mati pun, tetap ingin di panggung,” kata Marsam.

Pelestarian wayang orang biasanya juga berlangsung internal di lingkungan keluarga. Regenerasi di Paguyuban Wayang Orang Bharata tergolong sangat bagus. “Kuncinya, komunitas jadi bagian dari hidup sehari-hari. Tanpa komunitas, kami enggak akan konsisten melestarikan. Latihan serius enggak dapat apa-apa. Tidak sebanding jika dihitung secara matematika,” kata Kenthus.

Generasi pertama dan kedua terdiri dari 10 persen anggota yang bergabung pada era 1960 hingga 1970-an. Sebanyak 30 persen anggota berasal dari generasi ketiga dan keempat. Tiga puluh persen lainnya berasal dari generasi kelima dan keenam. Sisanya, sebanyak 30 persen, adalah generasi paling baru.

“Di komunitas kami, enggak diajari khusus jadi wayang orang. Karena wayang orang enggak ada masa depannya, menurut masyarakat sekarang. Tapi tiba-tiba dari kecil tumbuh secara otomatis bisa sendiri. Keunikan itu enggak ada yang punya,” kata Kenthus.

Wayang orang atau wayang wong, menurut Soedarsono dalam Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in The Court of Yogyakarta (1984), sejatinya adalah wayang kulit yang pemainnya diganti orang. Wayang orang disinyalir sudah ada sejak Kerajaan Mataram pada 930 Masehi. Namun, saat itu pemainnya menggunakan topeng. Ini antara lain tertera dalam Prasasti Wimalasrama, di Jawa Timur. Dalam prasasti itu tertulis wayang wwang. Wwang dalam bahasa Jawa kuno berarti ‘orang’. Mpu Monaguna yang hidup zaman Kerajaan Kediri dalam Kakawin Sumanasantaka memberi penjelasan serupa (Soedarsono, 1992).

Wayang orang terus berkembang dan lahirlah Wayang Orang Panca Murti di kawasan Senen pada 1963. Kelompok ini kemudian berubah nama menjadi Wayang Orang Bharata pada 5 Juli 1972. Cerita wayang mengandung tuntunan hidup, sarat nilai budi pekerti. “Kita enggak mau dikasihani. Wajah wayang orang adalah wajah seni tradisional kita,” ujar Kenthus.
Wajah seni tradisi yang tertatih-tatih bertahan di metropolitan.

( Mawar Kusuma & Mohammad Hilmi Faiq – KOMPAS )

Leave a Reply

Your email address will not be published.