Sikap Ini Harus Dimiliki Perempuan Yang Ingin Sukses

Jika kita memperhatikan gaya para tokoh perempuan yang sukses di bidangnya, rata-rata mereka memiliki persamaan: tampil maskulin/androgyni. Misal Miranda Gultom, Margaret Tatcher, Angela Merkel, dan lain-lain. Mereka tampil dengan gaya berpakaian tailor suit warna gelap atau netral dan berambut pendek. Jarang sekali kita melihat tokoh perempuan yang kental unsur feminin di bidang seperti politik. Kenyataannya perempuan yang berpenampilan feminin dan girly, sulit diterima di lingkungan bisnis dan politik. Alasannya memang bias, yaitu perempuan yang tampil sangat wanita tampak lemah, kurang tangguh, kurang dominan sehingga sulit dipercaya punya kemampuan mengendalikan atau tidak, naif dan lain-lain. Intinya tidak dianggap serius atau kurang kompeten. Padahal antara tampil feminin dan kompetensi tidak ada hubungannya.

Mungkin Anda sendiri pernah mengalami, terutama jika Anda bekerja di lingkungan yang dominan pria dan mempunyai bawahan. Butuh waktu bagi Anda untuk bisa diterima dan dianggap serius oleh bawahan. Kemudian timbul pertanyaan, apakah karena status sebagai perempuan yang membuat mereka meremehkan kemampuan Anda dan tidak menganggap serius instruksi Anda.
Jika demikian, Anda perlu mempertajam Gravitas Anda. Gravitas adalah aura keseriusan dan power/kontrol/kendali yang memancar dan ditangkap oleh orang lain.Sehari-hari, Gravitas biasanya keluar dalam bentuk komunikasi non verbal, yaitu bahasa tubuh dan pakaian. Ketika seseorang memancarkan gravitas kuat ke sekitarnya, maka orang lain cenderung mudah memberikan trust sekaligus menaruh hormat dan menerima tanpa banyak pertanyaan. Lawan gravitas adalah silliness. Mereka yang mempunyai kualitas ini mudah dikenali dari perilakunya yaitu tampil selalu melawak, tidak pernah serius, bertingkah seperti badut hingga penampilan yang seenaknya. Gravitas sendiri sebenarnya adalah nilai yang dipegang teguh oleh kalangan bangsawan dan elit Romawi, bersama dengan nilai-nilai seperti pietas (bertanggung jawab), dignitas (harga diri dan kharisma) dan virtus (karakter yang dipandang maskulin seperti berani, tangguh, dsb).
Dari serangkaian penelitian oleh Bailey dan Kelly yang dimuat di Journal of Non Verbal Behaviour tahun 2015, disimpulkan bahwa siapa saja bisa mempunyai gravitas, termasuk perempuan. Gravitas memang identik dengan sifat-sifat maskulin/lazim di kalangan lelaki. Tetapi untuk mempunyai gravitas kuat ternyata tidak usah berpenampilan seperti lelaki seperti potongan baju androgini atau rambut cepak. Kuncinya terletak di bahasa tubuh, yaitu cara berjalan, berdiri, dan sikap duduk. Jika Anda meniru cara berjalan, berdiri dan duduk seperti alpha male/dominan, maka gravitas akan memancar kuat dan Anda akan dianggap serius oleh orang lain. Pertanyaannya adalah cara berjalan, berdiri dan duduk yang bagaimana sih, yang powerful dan identik dengan alpha male? Untuk ini Anda perlu mengamati bahasa tubuh submissive/patuh dan dominan.
Cara berjalan yang disarankan adalah melangkah lebar dan menapak pasti, postur tubuh tegap dan pandangan tegas ke depan. Sedangkan cara berdiri yang menampakkan dominasi dan menunjukkan keseriusan adalah postur tegap seolah-olah menguasai ruangan dan mengendalikan situasi, pandangan mata tegas dan percaya diri, ujung kaki membuka, tangan bersikap terbuka daripada dilipat/menutup, dan bersikap tenang/tidak memperlihatkan perasaan gelisah/cemas/kikuk/canggung. Cara duduk yang memperlihatkan gravitas adalah postur tegap, ambil posisi yang terlihat, jangan ambil lokasi duduk mojok seolah ingin menghilang, kaki terbuka. Perempuan memang harus melatih sikap demikian karena selama ini perempuan dikondisikan bersikap submissive dalam masyarakat. Perempuan yang mempunyai bahasa tubuh dominan malah dinilai kurang ajar/kurang sopan, tidak bersikap perempuan seutuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.