Kecipir, Superfood Yang Dianaktirikan Di Negeri Sendiri

kecipir kolaseSelama ini pemanfaatan sayur kecipir baru sebatas diolah tumis/oseng dan pecel. Sebagai sayuran yang kandungan gizinya berlimpah dan cara membudidayakannya termasuk mudah, sayang sekali kalau potensi kecipir tidak dimaksimalkan. Sebagai sayuran pecel pun tidak terlalu lazim, hanya di daerah tertentu kita bisa menjumpai pecel kecipir. Ada juga yang mengolah kecipir sebagai campuran gudeg/jangan gori, alternatif selain daun singkong, tetapi tidak semua bakul gudeg memasukkan kecipir dalam masakannya. Biasanya justru gudeg/jangan gori rumahan.

Kecipir atau bahasa Inggrisnya winged bean, di barat disebut sebagai sayuran oriental dan eksotik karena asalnya memang berasal dari Asia Tenggara. Di beberapa daerah di Indonesia disebut juga kacang belimbing atau kacang botor, sedangkan di Malaysia disebut kacang botol. Semua bagian tanaman ini bisa dimakan, dari daun, buah, biji hingga akar. Yang sering kita makan/masak adalah buahnya. Nutrisinya sangat tinggi, konon kandungan proteinnya lebih tinggi dibanding daging sapi. Dalam 100 gram kecipir, bijinya mengandung protein hingga 35% dan lemak/minyak tak jenuh 18%. Selain itu juga tinggi vitamin A dan antioksidan tocopherol, serta vitamin C.  Karena itu konsumsi kecipir sangat disarankan untuk anak-anak, perempuan hamil, menyusui hingga manula.
Daun kecipir di beberapa negara lazim diolah sebagai salad/dikonsumsi mentah atau sebagai lalap. Akarnya konon rasanya mirip kentang tapi lebih terasa ‘nutty’. Biji kecipir diperoleh dengan membiarkan buahnya tua/kecoklatan lalu dibelah dan didapatkan biji berkualitas tinggi.
Pemanfaatan kecipir selain sebagai masakan/makanan juga dapat dipakai sebagai pakan ternak misal lele, menggantikan pakan konsentrat karena tingginya kadar protein. Sebagai makanan sendiri, kecipir (bijinya) bisa diolah menjadi tempe, tahu, kecap, kopi, susu, yoghurt, tepung dan diminum seperti susu bubuk, diseduh seperti kopi, dll. Di Indonesia banyak penelitian pemanfaatan biji kecipir diolah menjadi tempe dan kecap. Sayangnya berhenti di penelitian saja, tidak dikembangkan lebih lanjut. Seandainya bisa disebarluaskan, bisa memutus ketergantungan kita dari kedelai. Saat ini kita masih mengimpor kedelai dalam jumlah besar, karena tahu, tempe, dan kecap semua masih memakai bahan baku kedelai. Tak heran jika harga kedelai naik atau dollar naik maka langsung berdampak ke harga menu merakyat tersebut. Tahun 2011 sempat ada penelitian yang memanfaatkan potensi kecipir diolah menjadi tempe dan tahu, untuk meningkatkan kualitas hidup, gizi, dan ekonomi masyarakat Desa Sobontoro Tulungagung. Sayangnya penelitian ini tidak terdengar kelanjutannya.
Mengetahui khasiat kecipir, bahkan tahun 1982 NY Magz menuliskan bahwa tanaman kecipir berpotensi untuk mencegah kelaparan/kekurangan pangan karena tanaman ini bandel bisa tumbuh di lahan yang kurang banyak air dan segala bagiannya bisa dimanfaatkan baik untuk manusia dan ternak. Tetapi sudah 3 dekade lebih dan tidak terdengar gaung budidaya kecipir. Malah masyarakat perkotaan–hipster gaya hidup sehat tergila-gila bahan baku import yang diklaim sebagai superfood. Kecipir yang khasiatnya juga pantas menyandang gelar superfood dan jaraknya lebih dekat malah seperti dianaktirikan dan diabaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.