MUKTAMAR KE-33 NU – Nahdlatul Ulama dan Tantangan Dunia Islam Masa Depan

Guru Besar Monash University, Australia, Greg Barton menyebut Nahdlatul Ulama sebagai harapan bagi umat Islam untuk kembali menjadikan agama ini pilar peradaban dunia. NU diharapkan mampu menerjemahkan dengan baik apa yang disebut sebagai Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

“NU merupakan salah satu ormas Islam paling besar di dunia. Pengaruhnya sangat signifikan di Indonesia dan dunia. NU bisa memberi harapan bagi seluruh umat Islam,” ujar Greg dalam seminar Pra-Muktamar Ke-33 NU yang digelar harian Kompas bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Surabaya, awal Juli lalu.

NU, menurut Greg, memberi harapan besar karena memiliki pemahaman pemikiran Islam dan keterbukaan yang luar biasa. NU bukan lagi ormas Islam tradisional yang alergi dengan progresivitas dunia modern. Anak-anak muda NU mampu mengimbangi, bahkan melebihi, kemampuan berdialektika kelompok anak muda Islam lainnya yang hanya mengandalkan pengetahuan di mesin pencari seperti Google.

“NU kelompok yang menjadi alternatif di seluruh dunia. Cerminan dari Islam tradisional, dari Islam suni, yang mayoritas, tetapi sering dilupakan. Makin lama, makin penting kehadiran NU sebagai sumber inspirasi, terutama untuk anak muda. Namun, membuat anak muda tetap terlibat dengan NU menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi,” ujarnya.

Tantangan itu muncul karena kini ada banyak pengaruh yang bisa mengambil anak muda dari NU. “Dulu di pesantren kiai itu jadi raja, sekarang sudah banyak perubahan. Dulu mencari syaikh itu harus datang ke kiai, sekarang bisa cari di Google. Dulu bagi pemuda, baik di NU maupun Muhammadiyah, tidak ada pengaruh yang lain kecuali dari pemimpin umatnya,” tutur Greg.

Greg yang bersahabat dengan mantan Ketua Umum PBNU dan presiden keempat Indonesia, almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, meyakini, daya tarik NU bagi anak muda Islam bisa mengalahkan ajakan jihad ala Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) atau Jabhat Nusrah.

Nu2
NU memiliki modal dasar untuk ikut membangun peradaban Islam dalam dunia modern melalui penguasaan terhadap ilmu klasik yang merupakan warisan dunia dan sastra Arab.
“Jika hanya gabungan antara ilmu agama dan modernitas, bisa sangat kering. Namun, di NU juga ada pemahaman dan penerimaan terhadap hal-hal yang suprarasional. Ini harus jadi sumber inspirasi bagi pemuda,” kata Greg.

Pengalaman NU berhadapan dengan negara juga menjadi daya tarik. Keputusan menerima konsep negara kesatuan hingga Pancasila sebagai asas tunggal di masa Orde Baru menjadikan NU amat dinamis. Sebagai ormas Islam paling besar, NU telah membuktikan berperan besar dalam konsolidasi demokrasi di Indonesia.

NU bahkan berani menghadapi kelompok lain yang menolak demokrasi atau mengampanyekan khilafah islamiyah baru. “Saya kira sepakat, kita sebagai nahdliyin tak punya niat mengislamkan Indonesia. Bahwa kita hanya berusaha memakmurkan kehidupan Islam di Indonesia, membumikan nilai-nilai Islam di sini,” ujar Rektor UINSA Abdul A’la dalam kesempatan diskusi yang sama.

Kelebihan NU, menurut Greg, karena justru tidak berusaha mendirikan khilafah, tetapi Indonesia yang demokratis. NU melihat ke depan dan meyakini bahwa abad ini bisa lebih baik daripada abad sebelumnya. “Agama yang sehat adalah yang mau menerima perkembangan. Di seluruh sejarah Islam selalu ada perkembangan, ada perubahan,” lanjutnya.

Islam Nusantara

Di sisi lain, ikhtiar NU mewacanakan Islam Nusantara sebagai ortodoksi baru dunia Islam, untuk membangun peradaban yang gilang-gemilang di masa depan, menghadapi tantangan dari kelompok fundamentalis. Menurut Abdul, NU harus tetap berani menghadapinya karena membangun peradaban Islam di dunia modern juga ibarat mengembalikan agama sebagai akhlakul karimah.

“Ketika Islam Nusantara dikembangkan, ini dianggap bidah, liberal, disingkat JIN (Jaringan Islam Nusantara). Itu kan peyoratif. Sejarah menunjukkan, sejak awal NU menjadi bagian dari bangsa ini, untuk menjadikan bangsa ini kuat. NU berusaha melakukan kontekstualisasi kepada kearifan lokal. Kepentingan umum merupakan orientasi visi dan misi dari NU dengan Islam Nusantara-nya,” tutur Abdul.

Tentu saja cita-cita mulia NU ini membutuhkan dukungan negara. NU tetaplah organisasi massa, bukan organ negara yang memiliki kuasa untuk mengampanyekan Islam sebagai ideologi global yang bisa membangun peradaban baru. “Sekarang waktunya NU bersama dengan pemerintah mengampanyekan Islam Nusantara, Islam Pancasila, ke luar Indonesia. NU bukan negara seperti Arab Saudi atau Iran. Mudah-mudahan muktamar kali ini menjadi kebangkitan NU, agar tidak hanya berkutat di Indonesia, tetapi juga mendunia,” harap Dekan Fakultas Adab UINSA Ghazali Said menutup diskusi. (BIL/ETA/ODY)

Sumber : Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published.